Senja Ungu dan Seorang Pengagum Rahasia

Senja Ungu dan Seorang Pengagum Rahasia

Langit sore itu berwarna aneh—setengah biru, setengah merah muda. Dari balik jendela kecil toko bunga di ujung jalan, Aluna memandangnya lama sekali, seolah langit sedang mencoba mengatakan sesuatu yang tidak mampu diucapkan manusia.

Toko bunga itu sederhana. Tidak terlalu besar, hanya dipenuhi aroma mawar, lavender, dan sedikit wangi kayu dari rak-rak tua yang mulai kusam dimakan usia. Setiap sore, ketika matahari mulai turun dan jalanan perlahan ramai oleh orang pulang kerja, Aluna selalu berdiri di dekat jendela yang sama.

Ia menyukai warna biru.

Menurutnya, biru adalah warna paling jujur. Tenang, dingin, tetapi menyimpan kedalaman yang tidak semua orang mampu pahami.

Sementara Reno menyukai merah muda.

Katanya, merah muda adalah warna harapan. Lembut, hangat, dan membuat seseorang merasa tidak sendirian.

Mereka berbeda hampir dalam segala hal.

Aluna lebih suka diam dan menyimpan semuanya sendiri. Ia tidak pandai menjelaskan perasaannya. Bahkan untuk sekadar mengatakan “aku lelah,” ia sering memilih tersenyum agar tidak merepotkan siapa pun.

Sedangkan Reno berbeda.

Ia mudah tertawa, mudah mengobrol dengan orang asing, dan selalu punya cara sederhana untuk membuat suasana terasa nyaman. Kehadirannya seperti lagu sore yang diputar pelan di kedai kopi—tidak terlalu mencolok, tetapi cukup untuk membuat hati tenang.

Reno pertama kali datang ke toko bunga itu sekitar enam bulan lalu.

Awalnya biasa saja. Ia hanya membeli satu tangkai lavender setiap Jumat sore. Namun karena datang terlalu rutin, Aluna mulai hafal langkah kaki, suara, bahkan aroma parfum tipis yang selalu tertinggal beberapa saat setelah Reno pergi.

“Kenapa selalu lavender?” tanya Aluna suatu hari sambil membungkus bunga pesanannya.

Reno tersenyum kecil.

“Karena warnanya ungu.”

“Hanya karena itu?”

“Bukan.” Reno menoleh ke arah langit senja di luar jendela. “Karena ungu lahir dari dua warna yang berbeda. Biru dan merah muda. Kadang sesuatu yang indah justru tercipta dari dua hal yang tidak sama.”

Aluna tidak langsung menjawab.

Namun anehnya, kalimat sederhana itu tinggal lama di kepalanya.

Sejak hari itu, percakapan mereka mulai bertambah sedikit demi sedikit.

Tentang hujan yang sering datang tiba-tiba. Tentang lagu-lagu lama yang lebih nyaman didengar saat malam. Tentang mimpi-mimpi kecil yang belum sempat tercapai.

Reno pernah berkata bahwa ia ingin punya rumah kecil dengan jendela besar menghadap senja.

“Supaya setiap sore aku bisa lihat warna langit berubah,” katanya.

“Kamu suka senja?” tanya Aluna.

“Suka.” Reno tersenyum. “Karena senja mengajarkan kalau perpisahan pun bisa terlihat indah.”

Aluna tertawa kecil mendengarnya.

“Kamu bicara seperti penulis novel gagal.”

“Biarin,” jawab Reno santai. “Setidaknya aku masih punya hati buat menikmati hal kecil.”

Hari-hari berikutnya terasa lebih ringan bagi Aluna.

Ia mulai menunggu hari Jumat tanpa sadar.

Mulai memperhatikan jam lebih sering.

Mulai merasa kecewa kecil ketika Reno terlambat datang.

Dan tanpa ia sadari, seseorang yang awalnya hanya pelanggan biasa perlahan menjadi alasan kenapa senja terasa berbeda.

Suatu sore hujan turun cukup deras.

Reno datang dengan jaket sedikit basah dan rambut yang terkena rintik air.

“Hari ini hujan masih saja cantik,” katanya sambil tersenyum.

“Kamu selalu menemukan sesuatu untuk dikagumi ya?”

“Iya.” Reno menatap Aluna beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Termasuk seseorang.”

Jantung Aluna berdegup aneh.

Tetapi seperti biasa, ia memilih pura-pura tidak mengerti.

Malam itu, setelah toko tutup, Aluna duduk sendiri sambil memandangi langit yang mulai gelap.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa takut.

Takut berharap.

Takut salah mengartikan perhatian.

Dan yang paling ia takutkan—kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia miliki.

Waktu terus berjalan.

Hubungan mereka tetap sama. Tidak ada kata cinta. Tidak ada janji khusus. Hanya percakapan kecil yang tumbuh perlahan seperti bunga-bunga di toko itu.

Sampai suatu sore Reno datang lebih cepat dari biasanya.

Langit saat itu sangat indah. Biru muda bercampur merah muda lembut hingga menghasilkan warna ungu tipis di ujung awan.

Reno meletakkan seikat lavender di meja.

“Aku mungkin pindah kota minggu depan,” katanya pelan.

Dunia Aluna terasa sunyi mendadak.

Suara kendaraan di luar seperti menjauh.

“Oh…” hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya.

Reno tersenyum tipis, meski matanya terlihat menyimpan sesuatu.

“Ada pekerjaan baru.”

Aluna mengangguk pelan.

Padahal dalam hatinya, banyak sekali pertanyaan yang ingin keluar.

Kapan pergi?

Apa akan kembali?

Apa aku akan dirindukan?

Namun semua itu tertahan di tenggorokan.

Seperti biasa, Aluna kalah oleh diamnya sendiri.

“Terima kasih ya,” kata Reno perlahan. “Toko ini selalu terasa nyaman.”

Aluna menunduk kecil sambil merapikan pita bunga yang sebenarnya sudah rapi.

“Aku juga… senang kamu sering datang.”

Itu kalimat paling jujur yang akhirnya berhasil ia ucapkan.

Reno tersenyum.

Dan senyum itu justru membuat dada Aluna terasa semakin sesak.

Saat Reno melangkah menuju pintu, ia berhenti sejenak.

“Aluna.”

“Hm?”

“Kadang tidak semua pengagum harus memiliki.”

Aluna terdiam.

Reno tersenyum kecil untuk terakhir kalinya.

“Tapi bukan berarti perasaannya tidak tulus.”

Lalu ia pergi bersama langit senja yang perlahan berubah ungu.

Hari-hari setelah itu terasa berbeda.

Tidak ada lagi suara langkah kaki setiap Jumat sore.

Tidak ada lagi seseorang yang membeli lavender sambil membicarakan warna langit.

Namun anehnya, Reno tetap tinggal di banyak hal kecil.

Di aroma hujan.

Di warna senja.

Di lagu-lagu yang diputar pelan menjelang malam.

Dan terutama, di warna ungu.

Sejak saat itu Aluna mulai memahami sesuatu.

Bahwa beberapa orang memang datang bukan untuk menetap selamanya.

Ada yang hadir hanya untuk mengajarkan bahwa hati yang berbeda tetap bisa saling memahami.

Bahwa biru yang tenang dan merah muda yang hangat ternyata bisa menciptakan sesuatu yang indah ketika dipertemukan.

Seperti warna ungu.

Seperti mereka.

Dan setiap kali senja kembali berubah ungu, Aluna selalu tersenyum kecil sambil berbisik dalam hati,

“Terima kasih, untuk pernah menjadi bagian dari warna hidupku.”

@sekedarpengagummu

Reactions

Posting Komentar

0 Komentar