Header Ads

  • Berita Terkini

    Cerbung - Mutiara Persahabatan Bagian Ketiga





    Baca cerita sebelum Mutiara Persahabatan Bagian Kedua

    "Saya lihat anda menyukai Ardan dan kita akan bersaing untuk mendapatkannya," pesan singkat dari nomer handphone Ardan yang diterima Rita ini membuat ia menarik napas dalam-dalam antara percaya dan tidak, kemudian Rita pun meletakan handphone tanpa membalas pesan itu.

    Sementara itu di sebuah restoran berbintang lima, seorang wanita tersenyum puas setelah diam-diam dapat mengirim pesan, sambil memandangi handphone ditangannya wanita ini terus tersenyum.  "Kenapa dengan handphone saya Rini?" Mendengar suara menyapanya wanita itu terkejut dan segera meletakan handphone di tempat semula.

    "Ma... Maaf  Ardan, tidak ada apa-apa saya hanya melihat tema yang anda  gunakan dan sungguh sangat bagus," Jawab Rini bersahaja.

    Rini adalah teman sekolah Ardan dari bangku SMA hingga kuliah mereka sangat dekat. Sehingga mereka terkadang berjalan bersama bahkan Ardan sering mengajak Rini ke tempat pertemuan khusus. Tubuh Rini yang tinggi dan berambut panjang ini kelihatan seorang wanita ideal namun Ardan hanya menggangap Rini sebagai teman baik, lain halnya dengan Rini yang diam-diam menyukai Ardan sehingga berbagai cara Rini mengambil perhatian dari Ardan.
    Tak lama kemudian datanglah pelayan restoran yang membawa menu pesanan mereka, tanpa banyak bicara mereka berdua segera menikmati hidangan didepannya. Setelah selesai makan mereka berdua pun meninggalkan restoran itu menuju tempat parkir mobil. Dan mobil BMW M3 milik Ardan pun melaju dengan kecepatan rendah, menuju gedung perusahaan Ardan.

    "Ar... di depan swalayan berhenti. Saya turun disitu dan terima kasih makan siangnya," kata Rini sambil mengukir senyum.

    Ardan hanya tersenyum dan mengurangi kecepatan laju mobil dan akhirnya berhenti didepan swalayan. Rini keluar dari mobil dan melambaikan tangannya kemudian memasuki swalayan itu. Ardan pun meninggalkan tempat itu. Dan tak lama kemudian tibalah di perusahannya.


    ------*****------
    Sebulan telah berlalu kini tibalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Rita, hari dimana ia akan memulai kehidupan baru di negara orang dan jauh dari teman  dan keluarganya. Setelah mengemas barang-barang ia pun pergi untuk beristirahat.

    Pagi yang cerah dengan hiasan mentari dan embun pagi. Sebuah mobil vios warna merah yang ditumpangi Rita melaju menuju bandara Internasional Juanda. "Gedung itu akan sepi tanpa senyuman kamu Rita," suara Roni memecahkan kesunyian dalam mobil itu.

    "Ya, kami pun juga akan kesepian," sambung Wijayanto.

    Rita menatap kaca spion yang tergantung didepannya. Ia melihat kedua rekan kerjanya yang duduk dibelakang. "Senyum ku masih akan tetap ada untuk kalian, wahai sahabatku, kan kita masih ada layanan BBM atau Whatsapp," sahut Rita sambil tersenyum.

    Senyum Rita itulah yang selalu mengoda hati Roni, namun Roni tidak berani mengatakan yang sesungguhnya. Ya, mungkin karena Roni tahu Rita sedang fokus ke karirnya. Ahkirnya mereka pun tertawa bersamaan. Sepanjang perjalan itu mereka bertiga saling bercerita dan berandai-andai kira-kira Rita di Amerika nanti bagaimana. Dan tak terasa mobil yang mereka tumpangi pun berhenti didepan bandara. Mereka bertiga keluar dari mobil dan berjalan memasuki bandara. Setelah segala sesuatnya selesai megurusnya mereka bertiga duduk diruang tunggu. Selfie pun tak dilewatkan dan langsung terpampang di media sosial facebook.

    "Para penumpang dengan penerbangan Virgin America B-453 diharap untuk segera memasuki get 5 B,"

    Suara yang berkumandang itu membuat mereka bertiga menghenti aksi selfie dan mereka saling berpelukan untuk melepas kepergian Rita untuk menjalankan tugas perusahaan.


    ------*****------
    Sementara itu Rini nampak gelisah sesekali melihat handphonenya apakah pesan yang ia kirim sudah dibaca atau belum. Rini melempar handphonenya ke atas tempat tidur untuk melepas rasa jenuh. Kemudian Rini berpikir bagaimana bisa membuat Ardan tidak percaya lagi sama Rita. Ya, Rita adalah sosok yang akan menjadi penghalang untuk mendapatkan Ardan.

    "Yes... Agus," tiba-tiba Rini teringat temannya yang satu ini, ia segera mengambil handphone lalu mencoba kirim pesan, dan pesan pun telah terkirim. Tak lama kemudian Rini mendapat balasan dari Agus.

    "Ada apa sayang?"

    Rini tersenyum membaca balasan dari temannya ini, dan jari Rini dengan cepat menekan tombol telepon. Tak lama kemudian Agus pun menjawab panggilan dari Rini. Obrolan berlangsung cukup lama dan Agus pun siap membantu Rini, rencana pun tersusun dengan baik meskipun Rini harus mengeluarkan biaya untuk rencana itu. Bagi Rini uang tak masalah yang penting rencananya berjalan lancar dan sukses. Setelah obrolan dengan Agus selesai Rini pun segera melihat pesanan Whatsapp-nya ia kecewa karena pesanan yang dikirim ke Ardan tidak dibalas. Namun Rini tetap mengukir senyuman. Ya, suatu saat nanti Ardan pasti jadi miliknya!

    Bersambung Mutiara Persahabatan Bagian empat


    Salam kreasi  dan berimajinasi!

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    Diberdayakan oleh Blogger.