Header Ads

  • Berita Terkini

    Cerbung - Mutiara Persahabatan Bagian Empat


    Baca cerita sebelumnya : Mutiara Persahabatan Bagian Ketiga

    Rita menarik kursi di ruangan kerjanya. Lalu menarik napas dalam-dalam tak terasa enam bulan ia berada di luar negara, bekerja bersama orang-orang asing baginya. Namun karena Rita bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan sekitar Rita pun disukai oleh banyak rekan kerjanya, tapi ada juga karyawan yang ingin menjatuhkan nama baik Rita. Dengan penuh kesabaran  ia menghadapi hal itu, Rita pun berpikir bagaimana mengatasi karyawan-karyawan yang semakin menyalahgunakan pekerjaannya.


    "Sabar adalah kunci dari kesuksesan anakku," suara itu kembali terniang di telingannya.


    "Ayah..." Suara lirih Rita, lalu ia memejamkan mata, kepalanya disandarkan dikursi. Pikirannya menembus mega-mega masa lalu tanpa bisa dikendalikan, ia mengenang masa-masa kecil. Dimana kehidupan sepasang keluarga kecil dipinggiran desa yang hidup dengan kesederhanaan, akhirnya harus kehilangan salah satu anggota keluarganya. Ya, sesosok ibu yang pergi menghadap Illahi disaat Rita baru berusia delapan tahun. Pak Budiman adalah nama ayah Rita, beliau seorang yang arif dan bijaksana, sehingga warga setempat menjadikan pak Budiman sebagai kepala desa. Rita selalu membujuk ayahnya untuk menikah lagi. Namun pak Budiman masih tetap dengan pendirian untuk tidak menduakan cinta dan kasih ibunya.


    Rita perlahan membuka mata dan hati kecilnya berkata. "Ayah... Aku akan setegar ayah, aku harus bisa menghadapi ini semua, aku harus berusaha dengan kemampuanku, agar semua berjalan lancar."


    Kemudian Rita kembali melanjutkan pekerjaannya, dan ia pun merasa senang setelah membaca email dari Ardan, bahwa Ardan akan meninggkatkan kebijakan perusahaan sehingga karyawan tidak dapat menyalahgunakan tugas dan tanggungjawab sebagai karyawan.



                                                                     *****



    Sementara itu, Rini bergegas memasuki ruangan kerja Ardan, ditangannya membawa bungkusan kecil, senyuman terukir dibibir. Namun didepan pintu Rini berhenti sejenak, karena dari dalam ruangan sayup-sayup terdengar ketawa Ardan. Dengan rasa penasaran Rini perlahan membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dilihat Ardan yang sedang menyandarkan kepala dikursi sambil bertelpon nampak sekali Ardan sedang bahagia.


    "Bagaimana dengan kamu Rik... Apa sudah ada pacar lagi? Kalau saya sekarang sedang jatuh cinta pada seorang gadis tapi saya masih bertanya-tanya apakah wanita itu sudah punya pacar belum?" kata Ardan sambil tertawa.


    Rini sangat terkejut dengan ucapan Ardan yang baru saja didengar. Kemudian ia kembali menutup pintu lalu melangkah pergi dan bungkusan kecil di tangannya dibuang ke tong sampah yang tak jauh dari tempat itu. Rini berlari kearah mobil, kemudian membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi kearah sebuah toko bunga milik Agus. Sesampai di toko bunga itu, Rini tanpa basa basi langsung bercerita tentang apa yang ia dengar baru saja. Agus berhenti sejenak dari pekerjaannya merangkai bunga-bunga pesanan pelanggan.


    Ditatatapnya sahabatnya ini, dengan sorotan mata penuh kasihan dan kemudian Agus pun berkata. "Tenang... Tenang mungkin gadis yang dimaksud Ardan itu kamu Rin."


    "Itu tidak mungkin, Ardan tahu tentang saya." tegas Rini.


    "Hmmmm... Lalu siapa gadis yang dimaksud Ardan?" jawab Agus sambil mengerutkan dahinya.


    "Mungkin Rita," sela Rini.


    "Ahh... Itu tidak mungkin Rin," tegas Agus sambil tangannya kembali merangkai bunga-bunga di depannya.


    Rini terdiam lalu menarik kursi disebelah Agus, lalu bertanya kepada Agus, "Bagaimana tugas kamu?"


    "Tugas yang mana?" jawab Agus bersahaja.


    "Itu... Tugas untuk menyingkirkan Rita dari perusahaan Ardan,"  tegas Rini.


    "Oh. Yang itu, bereslah," Agus memandang Rini sambil tersenyum.


    Setelah berbincang-bincang banyak hal, hati Rini pun kembali tenang setelah mendapat berbagai penyejuk dari Agus.  Rini pun meminta ijin untuk pulang. Agus mengantar Rini sampai kehalaman toko dimana mobil Rini diparkir. Setelah mobil Rini berlalu Agus pun masuk dalam toko melanjutkan pekerjaannya.



                                                                    *****



    Malam semakin larut Rita masih setia didepan laptopnya, matanya mengarah ke layar laptop, jarinya lincah menekan tombol keyboard. Handphone disebelah laptop berbunyi, pertanda ada pesan whatsapp masuk. Ia segera mengambil handphonenya; dilihatnya pesan yang masuk, senyuman terukir dibibirnya. Pesanan singkat dari Ardan dibacanya, tapi mata Rita terarah ke foto profil Ardan, tatapan mata serta senyuman foto Ardan itu membuat hati Rita semakin tidak karuan. "Aku tidak bisa membohongi hati kecilku," suara lirih Rita.
    Ya, diam-diam Rita mencintai Ardan, entah kapan butir-butir cinta dihati Rita tumbuh, namun Rita berusaha untuk menolak rasa itu. Karena Rita tahu itu tidak mudah untuk mendapat balasan cinta dari Ardan, apalagi keraguannya tentang Rini adalah kekasih Ardan.


    Rita membalas pesan Ardan, obrolan mereka pun bukan lagi selayaknya bos dan karyawan tapi selayaknya teman baik. Ardan pun curhat apa yang ia rasakan, bahwa ia sedang mulai mencintai seorang wanita. Rita pun dengan nada bercanda mencoba menebak siapa wanita itu. Namun dengan tegas Ardan menjawab bahwa dugaan Rita itu  salah. Lantas siapa wanita itu? Hal ini kembali membuat hati Rita bertanya-tanya.


    "Rit... Kenapa terdiam?"


    "Nggak, cuma merenung sejenak... hehehe," balas Rita.


    "Saya ada satu projek, dan projek itu telah selesai saya tulis dengan tangan," kata Ardan dan dua lembar foto Ardan kirim.


    "Tapi saya yakin, kamu tidak bisa membacanya dan tunggu sampai besok saya akan ketik dan kirim ke email kamu," lanjut Ardan.


    "Wow... Tulisan tangan kamu sangat bagus, seperti tulisan dokter," kata Rita bercanda.


    "Hahaha... Ok, tak terasa sudah larut malam, sampai ketemu besok," Ardan mengakhiri obrolannya.


    Rita yang penasaran dengan apa yang ditulis Ardan mencoba untuk membacanya, namun Rita gagal memahami tulisan tangan Ardan itu. Dan akhirnya Rita pun membawa sejuta pertanyaan ke dalam mimpi-mimpinya.


                                           Bersambung ke Mutiara Persahabatan Bagian Lima

                              Salam kreasi dan berimajinasi!

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    Diberdayakan oleh Blogger.