Header Ads

  • Berita Terkini

    Cerbung : Senandung Do'a Ibu



    Senandung Do’a Ibu
    Penulis kolaborasi oleh Zetya & Lisa Nel

    “Kasih saja sama anjing, sana!” Bentak Tia menampik nampan berisi makanan yang ibu bawa, kemudian pergi dengan wajah kesal.

    “Kamu mau kemana Tia?” Tanya Ibu merintih.

    Tia tak menggubris. Sementara Ibu terduduk, merasa menyesal karena tidak bisa memenuhi keinginan anaknya.

    Sudah beberapa tahun ini keadaan keluarga Ibu mengalami goncangan. Anak semata wayangnya yang telah berubah sikap terhadapnya, juga Bapak. Ibu hanya bisa mengelus dada, berharap agar keadaannya tidak menjadi lebih buruk lagi. Sejak usaha restoran Bapak bangkrut, keadaan ekonomi keluarganya menjadi tak menentu. Jangankan membeli makanan enak seperti dulu, ketika Bapak sukses, sekedar membeli lauk tempe dan ikan asin seperti yang diberikan Ibu kepada Tia, Bapak harus membanting tulang.  Kini Bapak hanya bekerja sebagai pegawai swasta yang gajinya pas-pasan dalam mencukupi kebutuhan rumah.

    Hari mulai gelap, Ibu menyambut kepulangan Bapak dengan senyuman. “Tia mana, bu?” Tanya bapak mencari-cari.

    Ibu menghela nafas. Melihat Bapak merasa khawatir, Ibu menjawab dengan lemah lembut; “Tia pergi sejak tadi siang, pak.”

    “Sebentar lagi juga pulang.” Ibu menenangkan.

    Bapak hanya mendesah lirih, ia memandangi Ibu, seolah mengetahui yang terjadi antara Ibu dan Tia. Dalam langkah lelahnya menuju kamar mandi, Bapak menyahut; “Ya sudah, Bapak mandi dulu ya, bu. Badan Bapak capek sekali.”

    Bapak adalah orang yang ramah, dia sangat perhatian dengan keluarganya. Dia juga menyayangi putrinya yang semata wayang. Meski mengalami kebangkrutan, beliau tetap sabar dan ikhlas menerima semuanya. Terkadang, Bapak merasa kasihan dengan Tia, putri satu-satunya, yang tidak siap menerima keadaan sekarang ini. Dulu, Bapak mampu menuruti segala keinginan putrinya, ketika usahanya membuka restoran maju. Tapi keadaan saat ini tidak memungkinkan, jangankan membeli barang mewah, menjaganya saja tidak bisa. Semuanya ludes terjual untuk membayar pesangon karyawan, dan hutang Bank.

    Malam semakin larut, Ibu bolak-balik melihat jam dinding. Sudah pukul 9 malam, Tia tak kunjung pulang. Ibu mondar-mandir di depan rumah, menanti anaknya pulang dengan cemas. Raut wajah yang telah menua itu tampak sangat gelisah. “Kemana kamu, Tia?” Lirih Ibu khawatir.

    Hampir dua jam Ibu menunggu, tak ada tanda-tanda kepulangannya. Kekhawatiran Ibu menjadi-jadi. Bapak yang sedari tadi mengawasi dari jendela, sadar akan kecemasan Ibu. Bapak pun  menghampiri Ibu yang masih bergulat dengan kecemasannya.

    “Sudahlah, bu. Lebih baik Ibu istirahat, biar bapak yang nunggu Tia pulang, ya?” Bapak merayu.

    Ibu celingukan ke segala arah, mencari-cari anaknya. Hatinya begitu cemas dan Khawatir dengan keadaan anaknya, “Kalau ada apa-apa sama Tia bagaimana, pak?” Cemasnya.

    Melihat Ibu tak berhenti gelisah, Bapak berkata dengan penuh ketenangan; “Ibu jangan khawatir, Tia pasti pulang. Nah, sekarang lebih baik Ibu masuk lalu istirahat, biar Bapak yang tunggu Tia di sini.”

    Ibu menuruti bapak, ia masuk dengan perasaan gelisah yang masih menjajah hatinya. Sedangkan Bapak masih terus menunggu kepulangan putrinya.


    Ke esok harinya, Bapak memimpin sholat subuh dan Ibu bermakmum. Usai sholat, hati mereka menjadi tenang diiringi panjatan do’a yang haru. Bapak beranjak dari duduk sholatnya setelah berdzikir beberapa lama, sementara Ibu masih dalam duduknya, tak bergerak sesenti pun. Ibu memanjat do’a hingga air bening menetes dari matanya.

    “Kreek!” Seseorang membuka pintu rumah yang sudah agak reot. Walau begitu, rumah itu adalah satu-satunya harta serta tempat tinggal Ibu, Bapak dan anaknya, Tia. Bapak melongok ke arah pintu, kemudian mendekatinya. Bapak terkejut melihat anaknya yang baru pulang. Pakaiannya lusuh serta berbau alkohol, baunya sangat menyengat. Bapak marah besar. Bapak menarik tangan Tia yang masih berdiri sempoyongan di depan pintu. Didorong tubuh anaknya ke kursi yang juga sedikit reot.

    “Dari mana kamu, Tia!” Bentak Bapak penuh amarah.

    Tia hanya melenguh dan mendesis berulang-ulang. “Astaghfirullah!” Ibu beristighfar kuat-kuat. Secepat kilat Ibu memeluk Tia ketika melihat Bapak yang ingin melayangkan tangan pada anaknya. Ibu menangis sejadi-jadinya, hingga airmatanya menetesi mukena yang masih melekat di badan.

    “Dasar anak tidak tahu diri!” Kesal Bapak dengan nada tinggi. “Apa mau dia? Sudah hidup susah, dia buat keadaan semakin susah saja!” bapak menunjuk.

    Ibu mencoba menenangkan bapak dari amarahnya yang meluap. “Istighfar, pak! Istighfar!”

    “Lihat itu, Ibu kamu yang peduli dengan kamu. Tapi apa balasan kamu terhadap Ibu? Hah!?”

    “Sudah Pak, cukup!” Rintih Ibu.

    Bapak menggeleng tak percaya. Anak satu-satunya menjadi seperti itu. Padahal beliau sudah mendidik anaknya sebaik mungkin, tidak pernah sekalipun memberikan contoh yang buruk, apalagi sampai mabuk alkohol. Sungguh tidak dapat dipercaya. Bapak pun masuk kamar meredam amarahnya yang berkobar.


    ***


    Matahari sudah tepat di ubun-ubun. Tia pun telah siuman dari mabuknya. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya. Tia memegangi kepalanya yang pusing, efek dari alkohol yang ia minum semalam. Ia beranjak dari tempat tidurnya menuju dapur.  “Laper!” Gumamnya mencari-cari makanan di dapur.

    “Kamu sudah bangun, nak?” Tegur Ibu.

    Tia masih sibuk mencari-cari hingga tak menggubris teguran Ibu.

    “Itu... Di piring sebelah sana, Ibu belikan khusus buat kamu, nak.” Kata Ibu penuh kelembutan.

    Tia pun melahap menu yang disiapkan Ibu untuknya dengan penuh nafsu. Sudah lama sekali ia tak memakan makanan seenak itu. Nasi yang masih mengepul dengan lauk ayam goreng tepung, Tia menghabiskannya tanpa sisa. Ibu memandangi anaknya dengan tatapan penuh kebahagiaan. Sudah lama sekali dirinya tak memberikan menu spesial lagi kepada anak semata wayangnya.

    Tia kembali ke kamarnya, terdiam  dalam duduknya di bale reot miliknya. Pikirannya membayangkan saat-saat ia merasakan segala sesuatu yang dengan mudah didapatkan. Ketika dirinya meminta mobil, Bapak mampu memberikannya. Ketika ia meminta perlengkapan make up, Bapak memberikannya tanpa sekalipun menanyakan harga. “Sudah, kamu mau beli yang mana? Bapak belikan, ya.” Kata Bapak waktu itu. Tapi itu dulu, ketika Bapak sukses. Bukan yang sekarang yang hanya bisa bilang, “Bapak tidak punya uang, Tia.” Gerutunya dalam hati. Pikirannya tak bergeming pada keadaan bahagianya dulu.

    Masih berkecimpung pada keindahan materi yang pernah dirasakannya. Teman-teman laki-laki banyak yang mendekati, hingga perkumpulan-perkumpulan orang tajir bisa disatroninya. Bahkan, Aldi si cowok keren dan kaya raya pun mau mendekatinya. Ya, Aldi adalah anak seorang pengusaha sukses di bidang property. Usahanya begitu maju hingga memiliki beberapa cabang di Jakarta, dan beberapa di Surabaya, bahkan waktu itu sedang membuka cabang di Bandung. Setelah cukup lama kenal dengan Tia, Aldi menyatakan cintanya pada Tia. Aldi memberikan sekuntum bunga mawar sambil berlutut.

    "Aku sayang kamu. Kamu mau jadi pacarku." Aldi menyatakan perasaannya. Pernyataan cinta Aldi pun diterima tanpa ada pertimbangan. Setelah melalui masa-masa indah itu, datanglah masa sulit yang membuat Tia terpukul keras. Sebuah kejadian yang tidak pernah ada dalam benaknya. Bapak bangkrut total dan mengakibatkan seluruh harta benda dan aset-aset ludes.

    Dari sanalah kesedihan Tia bermula. Satu persatu teman-temannya pergi, seiring perginya materi yang sempat melimpah. Dirinya tak lagi dipedulikan, bahkan oleh pacarnya, Aldi. Tanpa isyarat sama sekali Aldi meninggalkannya. Ia pun menjadi sangat kesal. Berkali dirinya mencoba menemui Aldi, berkali pula Aldi sengaja menjauh. Hingga akhirnya Aldi mengakui bahwa dirinya sudah tidak lagi menarik. “Kamu itu sudah nggak menarik lagi!” Kata Aldi sinis. Tia sangat terpukul atas semua kejadian itu.  Tak terbayangkan sekalipun bahwa dirinya kini menjadi sesuatu yang tak pernah diharapkan.

    Malam kembali tiba. Usai mendirikan sholat Maghrib Ibu berdo'a, mendo'akan keluarganya, suami dan anak yang disayanginya. Ibu selalu begitu, tak pernah dalam usai sholatnya luput dari permohonan kepada TuhanNya. Tuhan pencipta langit dan bumi, kesulitan dan kemudahan, kesengsaraan juga kebahagiaan, semua adalah coba dan ujian kepada hambaNya. Yang harus diketahui adalah, Tuhan tidak akan menguji dan mencoba hamba melebihi batas kemampuan dan kesanggupannya. Ibu meneteskan airmata dalam do’anya. Ia merasa dekat dengan sang pencipta. Dirinya yakin bahwa suatu saat keluarganya akan mendapatkan kebahagiaan seperti dulu lagi.

    Seusai sholat Ibu menghampiri Tia yang masih berada di kamarnya, membawa nampan yang berisi sepiring makanan. Melihat lauk yang tak sesuai seleranya, lagi-lagi Tia membanting nampan yang masih berada di tangan Ibu.

    “Aku nggak mau makanan seperti itu!” Tolak Tia dengan keras.

    Ibu hanya pasrah menerima perlakuan anaknya itu. Meskipun hal tersebut dilakukan berulang kali, Ibu tetap sabar menghadapinya. Malahan, Ibu merasa bahwa dirinyalah yang tidak bisa membuat Tia senang, dan memberikan kemauannya.

    “Tia!”

    Ibu, dan Tia menoleh ke arah teriakan. Itu Bapak yang baru saja sampai rumah. Wajahnya tampak murka. “Kamu keterlaluan, Tia! Ibu sudah berbaik hati mengantarkan makanan ke kamu, malah kamu buang dengan kasar.” Bapak meluap-luap. “Bukannya Bapak, dan Ibu tidak mau memberi makanan enak buat kamu, tapi kamu lihat keadaan kita sekarang ini, Tia!”

    Ibu menghambur pada Bapak. Mencoba menenangkan Bapak. “Kalo kamu tidak terima keadaan kita yang sekarang, kamu pergi dari sini dan hidup dengan cara kamu sendiri. Biar kamu tahu bagaimana sulitnya mencari uang, tidak hanya mengeluh dan membuang-buang makanan seenaknya, yang sudah Bapak dan Ibumu berikan.” Lantang Bapak menunjuk pintu yang masih terbuka.

    Mendengar Bapak mengusirnya, Tia pun berlari keluar rumah dengan perasan kesal dan sedih yang menjadi satu. Ia tak tahu kemana harus tinggal. Dan bagaimana dirinya bisa bertahan hidup. Emosi yang merasuki hatinya membuang jauh-jauh rasa khawatirnya. Ia terus berlari tanpa tahu arah. Sampai ia memutuskan untuk mendatangi Luki, teman yang biasa mengajaknya mabuk. Luki tak bisa menerimanya, karena dirinya pun tidak memiliki tempat tinggal lagi setelah diusir oleh Ibu Kos, karena menunggak lima bulan. Apa yang diharapkan dari seorang pemabuk yang bekerja sebagai tukang kebun?

    Tia pun mendatangi Rudi, dialah yang menjadi Bos setiap acara mabuk-mabukkan. Rudi anak orang kaya, namun Rudi pun tak bisa menampung Tia karena orang tuanya melarang. Selanjutnya adalah Emma, perempuan seksi yang selalu memperlihatkan belahan dadanya. Dia adalah pacar Rudi yang biasanya sehabis meminum miras langsung masuk ke kamar dan, action.

    Seperti Luki dan Rudi, Emma tidak bisa menerima Tia bukan karena tidak mau menerimanya, tapi karena Tia yang tidak mau. Berhubung Emma tinggal di Mes tempat kerjanya, Cafe plus-plus, maka Tia harus berprofesi seperti dirinya sebagai penjaja tubuh yang nikmat. Batinnya menangis, tak tahu apalagi yang harus dilakukan dan tak tahu lagi harus ke mana melangkahkan kakinya. Tak satu pun temannya mampu menolongnya.

    Di trotoar jalan ia membisu, meneteskan airmata sedihnya yang sejak tadi tertutupi amarah. Pikirannya kosong, tak lagi dapat berfikir, buntu sudah.

    “Kamu kenapa?” tegur seseorang. Tia terkejut bukan main. Lamunan kosongnya buyar karena suara yang menegurnya. Dahinya dikerutkan tanda tak mengenali laki-laki yang menegurnya itu. “Kamu sedih ya?” Tanya laki-laki itu lagi.

    Tia hanya menggeleng. “Airmata cuma punya dua arti, pertama, airmata itu adalah tanda kesedihan seseorang. Kedua, airmata itu tanda haru seseorang yang bahagia.” Laki-laki itu menjelaskan.

    "Pria," laki-laki itu mengulurkan tangan. Tia memandangi uluran tangan laki-laki bernama Pria itu. Lalu dengan ragu menyambut uluran tangan Pria, akhirnya mereka berdua saling berkenalan. Pria membawa Tia ke rumahnya. Tia pun merasa lega akhirnya ada orang yang mau menolong memberi tumpangan.  Bersambung....

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    Diberdayakan oleh Blogger.