Header Ads

  • Berita Terkini

    Pengorbanan



    "Saya, caffe latte kurangi gula." ucap Farida kepada pelayan kafe. Kemudian tersenyum ke arah Faris sahabatnya yang sedari tadi memandangi seakan ada yang aneh pada diri Farida.

    Suasana kafe ramai oleh pengunjung, lagu melon terdengar di seluruh penjuru ruangan seakan para pengunjung kafe itu larut dalam suasana. Begitulah kebiasaan orang-orang ketika hari minggu, menikmati liburan di kafe, ngobrol sama teman-teman mereka.

    "Hai, sudah lama menunggu?" suara lembut Dela menyapa Farida dan Faris yang memang sedang menunggu kedatangannya.

    "Jalan macet, makanya telat datang." lanjutnya.

    Farida hanya tersenyum, lalu mempersilahkan Dela duduk, dan kemudian memesan lagi kopi untuk Dela. Persahabatan mereka berawal dari perkenal di media sosial hingga akhirnya sepakat bertemu di dunia nyata, meski mereka berbeda kota tempat tinggal, tapi, tak mengurangi rasa persahabatan dan bisa bertemu kapan saja jika mereka inginkan.

    "Lihat ini." Faris menunjukan ponselnya ke Farida dan Dela.

    "Ah, sudahlah, biarkan dia dengan apa yang ia mau." ucap Farida spontan.

    Faris dan Dela terkejut dengan kalimat yang baru saja Farida ucapkan, seakan mereka berdua tak yakin dengan apa yang mereka dengar.

    "Biasanya, saya yang mengucapkan kalimat itu, ini malah terbalik." suara lirih Faris.

    Sedangkan Dela mengerutkan dahinya penuh dengan tanda tanya, lalu menepuk bahu Farida. Seakan meminta penjelasan mengapa Farida mengucapkan kalimat itu.

    "Terkadang pikiran orang akan berubah ketika hati merasa lelah." ucap Farida sambil kedua tangannya memegang cangkir kopi.

    "Setidaknya, saya masih punya harga diri, berhenti menunggu dalam ketidak pastian, meski ini sulit dan terasa sakit." Farida melanjutkan kalimatnya pelan hampir tak didengar oleh Dela dan Faris.

    "Kenapa kalimat itu baru sekarang kamu ucapkan?" Dela bertanya dengan serius.

    "Coba kalau dari kemarin-kemarin." Faris menyela.

    Farida terdiam seakan tak mendengar kalimat yang diucapkan kedua sahabatnya. Ya, Farida yang dikenal teman-temannya sebagai wanita tegar, tak pernah mengeluh dengan kehidupannya, selalu tersenyum, dan sering membantu bahkan menasihati, ternyata dibalik senyum manisnya tersimpan luka yang sangat sakit dirasakan.

    Semenjak empat tahun yang lalu Farida yang menutup pintu hatinya untuk sesosok pria, namun pertemuannya dengan Doni, pria ini mampu mengusik hati Farida hingga benih cinta itu tumbuh lagi. Tapi, ketika hati Farida luluh oleh pesona Doni, ternyata Doni pelan-pelan menghilang bagaikan ditelan bumi.

    "Senang mendengar, bahwa kamu telah mengambil keputusan." ucap Faris memecahkan keheningan.

    "Kata ibu saya, ketika hati sedang kacau jangan sesekali membuat sebuah keputusan, karena terkadang keputusan yang diambil ketika hati sedang galau akan membuat penyesalan. Tenangkan diri dulu sebelum mengambil tindakan." Farida mengucapkan kalimat dengan penuh keyakinan lalu meneguk caffe lattenya.

    "Dan kalimat itu sering kamu ucapkan untukku," Dela menyela.

    "Untukku juga." Faris pun menimpali.

    Memang Farida selalu mengucapkan kalimat itu ketika memberi nasihat pada teman-temannya. Sebuah kalimat dari Ibunya yang selalu Farida ingat.

    Kemudian Faris dan Dela mengalihkan topik obrolan, mereka tak mau melihat Farida bersedih. Sambil sesekali tersenyum Dela membuat lelucon, sehingga membuat ketiganya tertawa dan melupakan obrolan sebelumnya.

    Siang telah digantikan oleh malam, merekapun telah meninggalkan kafe menuju rumah masing-masing. Farida, ketika sampai di rumahnya lalu duduk di sofa ruang tamu dan menyandarkan kepala, mata terpejam, angannya melayang menembus mega-mega langit ruang tamu. "Letakkanlah dunia ini dalam genggaman, bukan di dada, bukan di kepala." kalimat yang pernah diucapkan oleh Doni ketika Farida sedih kehilangan sesuatu yang Farida anggap berarti dalam hidupnya, kembali terngiang, lalu Farida membuka mata dan menarik nafas kemudian dihembuskan.

    "Ya, aku akan mencobanya." gumam Farida menenangkan hatinya lalu melangkah ke kamar tidurnya.

    ***


    Rintik hujan di siang hari, tak mengurangi semangat aktifitas Farida, ia berjalan menelusuri jalan setapak menuju sebuah warung yang menjual nasi bungkus, dibelinya 5 bungkus nasi untuk pekerja yang ada di sawah milik Bosnya. Farida yang bekerja di salah satu perusahaan pertanian dan bertugas keliling dari sawah satu ke sawah lain, guna untuk meninjau pekerja.

    Dengan kesibukan barunya Farida dapat melupakan hatinya yang sedang gundah oleh kepergian Doni. Namun, meski demikian Doni tetap di hatinya, tak mengurangi sedikitpun rasa yang ada, hanya saja ketika hati sedang dilanda rindu, Farida memandang foto Doni yang tersimpan di galeri ponselnya, bahkan dengan diam-diam Farida menyimpan foto terbaru Doni ketika Doni mengubah foto profil akun media sosialnya. Farida, tak dapat membohongi hatinya, mulut bisa berbicara tidak, buktinya hati tetap mengatakan 'aku mencintainya' itulah cinta yang dirasa oleh Farida, akhirnya Farida kalah telak dan hanya bisa terdiam.

    "Selamat siang, Non." sapa salah satu pekerja dan diikuti pekerja lainnya.

    "Selamat siang juga, Pak! Istirahat dulu, saya bawakan nasi pecel ayam, silahkan dimakan dulu." jawab Farida dengan senyum ramahnya.

    Farida, memandangi bapak-bapak yang sedang menikmati nasi bungkus dengan lahapnya, ia kembali terkenang masa kecilnya ketika Ayah dan Ibunya mengayun ayunan kayu tempatnya duduk, "Ibu, Ayah, ketika Farida besar nanti dan menikah, Farida tak mau punya suami orang berdasi." Ibu dan Ayah tersentak dan menghentikan ayunan itu, Ayah berjongkok di depan Farida lalu berkata "Kenapa, begitu?"

    "Iya, kenapa, sayang?" Ibu pun tak tinggal diam.

    Farida, sebagai anak yang masih berusia 7 tahun menjawab dengan lugunya "Kalau Farida menikah dengan orang berdasi, pasti Farida tak akan merasakan bagaimana sebagai rakyat kecil yang serba kekurangan."

    Ibu dan Ayah saling berpandangan, seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh putri semata mayangnya.

    Deringan ponsel, membuyarkan lamunan Farida, pesan singkat dari Dela yang mengatakan tahun baru nanti akan ada acara mendaki gunung Merbabu, apakah Farida mau ikut dalam pendakian tersebut. Farida, tak butuh waktu lama untuk membalas pesan Dela, karena mendaki gunung Merbabu adalah salah satu keinginannya selama ini. Setelah membalas pesan yang menyatakan Farida ikut bergabung. Farida pun menghampiri bapak-bapak yang sedang menikmati asap rokok setelah makan nasi bungkus.

    ***


    Senja di kaki gunung Merbabu nampak indah, semilir angin pegunungan terasa sejuk, ketika Farida sampai di tempat yang dijanjikan oleh Dela dan Faris.

    "Dekk." detak jantung Farida seakan berhenti, ketika melihat sesosok pria yang tak asing baginya, senyum terukir di bibir pria itu ketika menyambut kedatangan Farida, senyuman yang mengusik jiwa dan meluluhkan hatinya, meskipun sudah lama Farida rasakan, namun senyum itu. Pesona itu. Masih sama seperti satu tahun yang lalu.

    Melihat langkah Farida berhenti seakan ragu, pria yang tak lain adalah Doni melangkah dan dengan cepat meraih tangan kiri Farida sambil berkata "Ayo, cepat jalannya, kami dari tadi menunggu malah terdiam di sini."

    Farida membiarkan Doni menggandeng tangannya, meski rasanya tak menentu, senang, haru menjadi satu. Sementara itu Dela dan Faris berpandangan dan saling tersenyum, karena mereka merasa berhasil dengan taktiknya untuk mempertemukan kembali kedua sahabatnya yang sebenarnya masih sama-sama saling mencintai.

    Dengan berbagai rintangan, bebatuan terjal dilalui akhirnya mereka sampai ke puncak gunung Merbabu, suasana malam yang menyekam namun menyenangkan, api unggun dinyalakan. Farida yang sedari tadi kelihatan kedinginan, Doni mendekati dan memeluknya dari belakang, pelukan Doni terasa hangat bagaikan sinar mentari pagi yang menyibak tetesan embun untuk mengurangi rasa dingin, mengobati rindu yang terpendam selama ini. Namun ketika mata Farida terbuka.

    "Ah... hanya mimpi!" gumamnya sambil menarik selimut dan melanjutkan tidurnya.



    Oleh : Lisa Nel
    Catatan : Cerita fiksi, ide kurang tidur jadi maklum jika alur cerita ampur adul.

    TW.12.02.17

    29 komentar:

    1. Ah ternyata cuma mimpi..!!
      Kalau kenyataan kan pasti wow..!
      Bisa bersama doni, lelaki idaman he..he..

      BalasHapus
      Balasan
      1. Hahaha.. Bukan hanya wow, tapi lebih dari wow.. Ckckck

        Hapus
      2. jangan wow atuh...tapi wew, lebih pas

        Hapus
    2. ampun deh udah segitu merasa happynya baca endingnya lah kok mimpi sih?!
      tidur lagi ah melanjutkan mimpi indah haha ...

      BalasHapus
      Balasan
      1. Cie.. Cie.. Ampuh deh, ayo lanjut cari mimpi, mbak.. Haha

        Hapus
    3. Firasatku mengatakan ini kisah yg diharapkan jadi nyata, hehe!

      Mimpi, gumam, selimut, dan tidur. Akan sangat jelentreh sekiranya memang harus dijelentrehkan. Jadi sengaja saya ambil simpulnya saja karena kekuatannya (menurut hemat saya) justru pada paragraf pungkas. Dan itu memang disengaja oleh penulis. Terimakasih.

      BalasHapus
      Balasan
      1. Firasat saya juga mengatakan komen ini kok rasanya sama dengan yang di grup WA, mas Jaey.. Haha

        Hapus
    4. Wooooo..... Paragraf terakhir dari ending ceritanya bikin saya mau salto di kasur. Hahahhaa
      Kirain happy ending.
      Eh, ternyata CUMI. alias cuma mimpi.

      Semproll... Wkwkwkwkkwkkw

      BalasHapus
      Balasan
      1. Hahaha, saltonya alon-alon nanti malah kebentur dinding tu kepala..

        Kalau tak bikin happy ending pasti sudah sampean tebak... Wkwk

        Hapus
      2. Berarti aslinya hepi ending pas pulang kampung beberapa waktu yg lalu.
        Iya toh...???? Hahhahaaa

        Hapus
    5. aku kira cerita ini beneran terjadi, eh malah enak2nya lagi serius baca ujung-ujungnya cerita di pulau kapuk.., haha

      BalasHapus
      Balasan
      1. Hahaha... Justru cerita dipulau kapuk ini yang bikin ngerget, mas Jeni.. Ckckck

        Hapus
    6. untung saya mah udah pengalaman, jadi hapal bahwa artikel ini pasti nyeleneh...bener banget kan semuanya hanya mimpi.

      beginilah akibatnya kalau terlalu sering bw ke mantan anggota KPK

      BalasHapus
      Balasan
      1. Hahaha.. Saya bukan anggota KPK, mang, tapi hanya edisi kangen mantan.

        Hapus
    7. Kalo udah rindu mah ketemu di mimpi aja (dipeluk lagi) widiihhh....bikin baper...., pas mau tidur lagi pasti senyum2 dulu ....

      BalasHapus
      Balasan
      1. Betul, mas, kangen sampai kebawa mimpi, klau senyum-senyum dulu iya, sepertinya om John ini pengalaman mimpi ketemu pacar juga, ya? Wkwkwk

        Hapus
    8. udah baper eh ngimpi... yaawwooohh gini amat

      BalasHapus
      Balasan
      1. Hehehe.. Iyo mbak, kok ngipi ternyata.

        Hapus
    9. kurang tidur aja ceritanya keren mba...salam

      BalasHapus
      Balasan
      1. Terima kasih, pak, salam kembali. Hehe

        Hapus
    10. kayak kena troll aja nih bacanya udah terpana sama reuni mereka berdua eh ternyata cuman mimpi ce ka ce ka!

      BalasHapus
    11. Mimpi yang indah, Farida, langkah awal menuju nyata :)

      BalasHapus
    12. akhir cerita indah di dalam pesona puncak Syarif....
      meski hanya mimpi, cerita diatas mewakili mimpinya para pendaki gunung :D

      BalasHapus
    13. sepertinya cerita ini terinspirasi dari admin yang suka minum kopi jadinya terciptalah cerita ini. hehe. selamat siang kawan kawan mwb.

      BalasHapus
    14. Ya ampun, udah baper sebaper2nya Mbak, jebule ngimpi hiksss...

      BalasHapus
    15. Tak apa, mimpi kadang jadi kenyataan..mimpi indah itu nikmat, tapi jangan sampai mimpi indah trus-trusan dan dak bangun-bangun....he.he.he..

      BalasHapus
    16. Jadi pengin tidur lagi mumpung liburan

      BalasHapus

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    Diberdayakan oleh Blogger.