Header Ads

  • Berita Terkini

    Solusi bukan Emosi



    "Senyuman manis itu?" hampir saja pudar oleh waktu. Sungguh hal ini membuatnya tak bisa berpikir waras lagi, emosi tak bisa terkendalikan, ketika mendengar sesosok wanita yang ia cintai tiba-tiba tak bisa bicara, lidahnya kaku, tenggorokan terasa tersumpal benda. Tangannya meraih foto yang berukuran 10R yang terletak di atas meja kerjanya. Ia mengusap lembut wajah keriput dalam foto itu, hatinya menangis terasa ada kesalahan besar.  "Ampuni aku.." ucapnya lirih. Ia melepaskan foto itu, dan kemudian suara keras menghantam meja. Meja yang tak bersalah menjadi sasaran kepalan tangannya. Kemudian kepalanya disandarkan di kursi seakan sedang memikirkan sesuatu.

    Sesaat. Matanya terpejam. Angannya melaju cepat menembus mega-mega alam khayalan. Terdengar sayup-sayup suara merdu yang tak asing lagi ia dengar. Suara itu. Merdu sekali sehingga ia pun tersadar bahwa emosi tak akan dapat menyelesaikan suatu masalah. Emosi hanya akan membawa pikiran tak tenang hingga pada akhirnya masalah tak akan dapat solusinya.

    Perlahan ia membuka mata, ponsel di meja ia raih, jarinya dengan lincah menekan huruf demi huruf hingga tersusun rapi menjadi kalimat. "Jangan diminum obat itu lagi, dan ambil air kelapa muda untuk memberi pertolongan pertama agar dosis obat yang terserap seluruh organ cepat luntur." Pesan pun terkirim. "Jangan tanya kenapa dengan obat itu."  lanjut pesannya.

    Malam pun telah menggantikan siang, hatinya terasa lega ketika ia selesai mengajukan tiket pesawat terbang ditukar arah. Liburan akhir tahun yang ia rencanakan sebelumnya bersama rekan-rekan kerja ia pun batalkan, meskipun sangat disayangkan namun mereka sangat memahami masalah yang ia hadapi. Meski demikian hatinya cemas karena permohonan belum mendapat balasan dari pihak atasannya. Kemudian ia merebahkan tubuhnya, rasa lelah yang ia rasakan sehingga membuat matanya begitu cepat terpejam dan terlelap dengan kecemasan hatinya.

    Pagi yang cerah, matahari pun bersinar tanpa rasa malu-malu, meski diiringi oleh semilir angin di musim dingin. Ia membuka mata kemudian berdiri dan membuka jendela. Angin perlahan menembus masuk kamarnya dan ia pun ambil kesempatan menghirupnya, kemudian dihembuskan perlahan. Bersamaan dengan itu ponselnya pun berdering ada panggilan masuk, dengan cepat  tombol hijau ia tekan. Betapa senangnya ketika ia mendengar permohonan untuk menukar tiket diterima dan sedang dalam proses. Tidak hanya itu ia pun mendapat kabar baik bahwa Ibu pelan-pelan telah dapat berbicara lagi, lidah yang kaku sudah terasa membaik. "Alhamdulilah, terima kasih Tuhan. Ibu... aku akan pulang menjengukmu, Bu." ucapnya lirih dan terukir senyum di bibir mungilnya.

    24 komentar:

    1. dan sebenarnya siapakah dia itu sebetulnya? apakah dia dan dia itu adalah dia. saya tunggu cerita dia di episode selanjutnya, wasalam

      BalasHapus
    2. emosi itu, sousi terakhir dari pilihan kalau sudah tidak ada jalan mbak

      BalasHapus
      Balasan
      1. jangan khawatir, sekarang ada ok google yang bakal siap membantu kamu dalam situasi apapun :D

        Hapus
    3. Semoga bisa melepas kerinduan yang selama ini terpendam, dibatasi ruang dan waktu.

      Hope arrives in Indonesia safely.

      BalasHapus
    4. Apa kabar mbak Lisa yg selalu Nel?
      Gimana rasanya di Blogspot?
      :)

      Mampir ajah sebentar nih, silaturahmi sama sahabat lama...
      salam silaturahmi...:)

      BalasHapus
    5. PERASAAN YANG TERPENDAM CUKUP LAMA ITU....ungkapkanlah kepadaku...aku siap mengobatinya kok...*ehh

      BalasHapus
      Balasan
      1. diobati dengan sekarung ubi cilembu ya mang, bagi dong!!

        Hapus
      2. iya dong...ubi cilembunya valid AMP HTML pulak...^ehh

        Hapus
    6. Kadang untuk menyelesaikan solusi tanpa emosi itu sulit,, hehehee

      http://catatan-dia.blogspot.com

      BalasHapus
    7. Alhamdulillah,
      Selamat pulkam, hehe... aku kok girang gini ya
      Libura bersama teman di batalkan demi ibunda tercinta, keputusan yang bijak

      solusi bukan emosi
      Semoga Allah mudahkan selalu, aamiin

      BalasHapus
    8. yah enak bisa pulang kampung. kalau sudah ketemu ibu, bilang aja "Bu Telolet Bu". Tolong buatin Telor Omelet !

      BalasHapus
    9. Semoga ibunya cepet sembuh ya.
      Maaf, aku cuma bisa membantu dengan doa.

      Lho? Itu kan cerita..
      Ups... haha

      BalasHapus
    10. Balasan
      1. mas dzaky dewan kepoooooooooooooo sekaliiiiii!

        Hapus
    11. Emosi emang nggak akan pernah menyelesaikan masalah sih.

      BalasHapus
    12. Ini lagi cerita siapa sih mbak? Aku penasaran, hahaha

      BalasHapus
      Balasan
      1. Mungkin lagi menceritakan penulisnya kali.... ups salah yah mba! Maaaaaaaffffff sekali!

        Hapus
    13. emosi itu nafsu, dan nafsu gak baik buat kesehatan! *ehh maksudnya untuk kelangsungan hidup kita hehe.
      .
      syukurlah ibunya udah sembuh ya berkat pertolongan allah swt dan juga saran darinya untuk meminun air kelapa muda. pasti diperjalanan dia gak sabar banget tuh cepet bertemu dengan ibunya. soal liburan dikesampingkan dulu!

      BalasHapus
    14. memang kita harus padai-pandai menjaga emosi kita ini!

      BalasHapus
    15. cerita ini nggak nyata, jadi yg tanya ini ceritanya siapa tentu aja ini cerita karangan penulisnya, duh sok tau banget ah .. !! :D

      BalasHapus
    16. Emosi yang tersalurkan dengan baik itu lebih bijaksana, tapi apakah semua orang bisa melakukannya?

      Kita harus berusaha mencobanya, ya nggak non?

      BalasHapus

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    Diberdayakan oleh Blogger.