Header Ads

  • Berita Terkini

    Cerbung : Bianglala Masa Lalu bagian 4 (Tamat)



    Baca juga; Bianglala Masa Lalu Bagian 3. Sekian tahun semua itu berlalu, Vita sudah berhasil menyembuhkan luka atau paling tidak menepis dendam. Namun tak disangkanya luka bundanya berpuluh kali lebih parah dan sampai sekarang belum sembuh. Hanya yang tak terbayangkan oleh Vita, bahwa bundanya tega menyembunyikan hal penting itu dari diri Vita, karena dendam dengan almarhum Yuni.

    "Yuni, sudah meninggal bunda," kata Vita datar, dan ia tak tahu apakah itu kalimat tanya atau kalimat berita. Bunda reflek menoleh kesamping. Sambil tangannya tak berhenti mengupas bawang untuk masak makan malam. Sebenarnya beliau sudah tahu berita itu, tapi entahlah kenapa memilih bungkam. Vita harus bersusah payah meredam emosi, dan mengulangi lagi kalimatnya dengan tenang.

    "Bunda, Yuni sudah meninggal, dan anak perempuanya berkebutuhan khusus, kenapa tidak ada orang di rumah ini yag memberitahuku?”

    "Ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal itu, Vita!" Bunda berkata tegas dan kaku.

    “Bunda enggan membicarakannya!” sambungnya, masih dengan nada yang sama.

    "Apakah Vita selama ini sudah sangat menyakiti Bunda?” suara Vita makin pelan. Vita, menyesal dan menyadari, bahwa apa yang terjadi padanya di masa lalu membekaskan sakit di hati orang-orang di sekitarnya. Dan ketika dia mengambil keputusan untuk pergi ke Jakarta, serta dengan begitu tenangnya melangkah keluar dari lingkaran orang-orang yang mencintainya, sudah membuat makin tersayat hatinya.

    Setelah sejenak bunda hanya diam, lalu dengan suara yang agak lembut beliau berkata; “Anak memang dilahirkan untuk belajar dari kesalahan, dan orang tua tak bisa berbuat banyak selain maklum serta memaafkan. Pada akhirnya, para orang tua cuma berharap bisa membantu sedikit. Itu pun kalau anak-anak mereka masih memanusiakan orang tuanya.”

    "Bunda memang selalu tahu bagaimana menyakiti seseorang, bunda kejam, berhati baja yang tak pernah kehabisan akal dalam memilih kata. Vita pun sangat kagum, dengan sekejap beliau bisa tahu titik kelemahan seseorang dan mengarahkan pelurunya tepat ke titik sasaran tak pernah meleset." gumam Vita.

    Percuma Vita menyangkal keyakinan bunda, hanya akan membuat ayah repot menenangkannya kalau bunda dilawan. Akhirnya Vita hanya diam, dan memilih kesempatan untuk menuju kamarnya.

    Sesampai di kamarnya, Vita sedang berpikir akan menelpon Ridwan untuk meminta maaf, bahwa tidak ada yang memberitahukan tentang meninggalnya Yuni. Lagipula kenapa kemarin dia tidak menceritakanya. Tapi ponselnya sudah berbunyi terlebih dulu karena ada panggilan, dari Ridwan.

    Setelah menutup telpon, Vita kini bimbang. Kenapa tadi dia menerima ajakan Ridwan untuk makan malam. Ini akan sama artinya menyulut sumbu mercon harga diri bunda kalau mendengarnya. Tapi, kebanyakan wanita selalu saja tak bisa ingkar aroma masa lalu.

    Ridwan sebenarnya pria yang sangat menyenanangkan. Sampai kapanpun Vita tak pernah bisa melupakan apa yang membuatnya jatuh cinta. Sejenak Vita ingat suasana yang terbangun saat mereka dibangku SMU, suasana yang penuh penghargaan dan kehangatan. Tapi, itu semua kini tinggal kenangan yang tak dapat di putar kembali.

    Vita menarik nafas dalam-dalam kemudian dihempuskan perlahan, ia mengakhiri bayangan masa lalunya, kemudian ia pun berdiri lalu menutup cendela kamarnya tanpa melihat apartemen yang ada di seberang. Kemudian menuju tempat tidurnya.

    ***


    Keesokan harinya, matahari begitu cerah menyinari bumi, seakan ingin menghanguskan semua isinya. Vita bergegas menuruni anak tangga apartemennya, sesampai di loby, sebuah mobil sudah menunggu, tak lama kemudian seorang pria berpakaian rapi dan berdasi warna ungu menyapanya; "Selamat pagi, nona," Vita hanya tersenyum mendengar sapaan itu, lalu membuka pintu mobil yang kacanya terbuka. Dan kemudian mobil itu pun melaju meninggalkan loby apartemen Vita.

    Suasana dalam mobil hening tak ada kata sepatah pun dari mereka berdua. Laju mobil  semakin cepat seakan mengejar waktu sehingga tak akan terlambat sampai tempat kerja. Vita menatap lurus kedepan seakan membiarkan angannya menikmati keindahan pagi yang cerah. Sejenak Vita merasa lega karena masalahnya dengan Ridwan telah selesai atau dianggap selesai. Biarlah rasa cinta itu tetap abadi walau tak bisa bersatu, itu kesepakatan mereka.

    Begitupun bunda, ayah, dan Bowo juga ihklas melepas Vita kembali ke Jakarta, untuk menjalani karier masa depannya. Ya, Vita benar-benar diberi kekuatan untuk mengambil dan menjalani keputusanya. Alangkah bahagia dan damai hatinya ketika senyum bunda mengantar kepergianya waktu itu, yang sebenarnya bunda sudah yakin ia tak akan berhubungan lagi dengan Ridwan. Vita mengukir senyum dan matanya terus menatap lurus kedepan.

    Andika yang duduk di sebelah sambil mengemudi  mobil sekilas melirik kearah Vita; "Semalam tidur jam berapa, Vit?"

    Vita terkejut lantas memutar kepalanya, pertanyaan yang sederhana namun cukup menyadarkan Vita dari lamunan. Vita tak menjawab pertanyaan itu, tapi mata Vita memandang ke arah Andika, ia menangkap ketulusan ada di bening bola matanya, ya ketulusan yang selama ini yang diabaikan.

    "Hei... Ditanya tidak menjawab, tapi malah memandangiku seperti itu?" suara lirih Andika.

    Kembali Vita tersipu; "Ohh, kira-kira jam satu lebih."

    "Kamu ni memang bandel, di bilangin tidur larut malam itu tidak baik. Apa kamu masih berhubungan sama pacar mayamu itu?"

    "Ah, nggak lah, itu semua sudah menjadi masalalu," jawab Vita asal.

    "Yang benarnya, nada suaramu itu menandakan bukan dari hatimu." seloroh Andika sambil mengelus rambut Vita dengan tangan kirinya.

    Entah kenapa, mungkin jika dulu dengan Ridwan diperlakukan begitu menjadikan gemuruh dadanya tak karuan hingga terbawa mimpi. Tapi kemanjaan yang dilimpahkan Andika padanya, ia rasakan tak lebih sebagai kasih sayang kakak pada adiknya. Dan sulit bagi Vita untuk merubahnya sebagai perasaan cinta seorang gadis pada pria.

    Ya, mereka memang sangat saling menyayangi. Vita bisa saja menerima cinta Andika, yang hampir tak ada cacat dalam diri Andika. Begitupun kariernya sudah mapan, yang pasti bunda tak akan menolak jika Andika diperkenalkan sebagai calon menantu. Tapi Vita merasa ini akan tidak adil bagi Andika, jika cinta Vita sebenarnya bukan untuk Andika.

    "Ya Tuhan, apa yang terjadi pada diriku. Aku tak menyesali jika cinta dari orang yang kucintai tak Engkau satukan, aku sudah ihklas jika Ridwan ternyata bukan jodohku. Tapi tolong, jangan timpakan sakit yang sama pada Andika karena aku belum bisa membalas cintanya."

    "Sudah, tak usah mikir yang tidak-tidak," kata Andika seolah tahu apa yang sedang ada dalam pikiran Vita.

    "Aku sudah cukup bahagia bisa membimbingmu, dan selalu dekat denganmu. Kamu tak usah memaksakan diri untuk menerima cintaku jika memang belum bisa," sambungnya.

    Vita hanya bisa terdiam, mulutnya seakan terkunci, tak mampu berbicara lagi, butir-butir bening jatuh di pipinya. Melihat Vita menangis Andika mengambil sapu tangan yang ada di saku bajunya dan diulurkan ke Vita; "Sudah, ah! Hapus air matamu, kita sudah hampir sampai malu dilihat orang, nanti mereka beranggapan kamu aku apa-apakan," kemudian Andika kembali mengelus lembut rambut Vita.

    Vita yang merasakan belaian lembut dalam sela-sela isak tangisnya, meraih tangan Andika, lalu  ia genggam erat-erat dengan suara lirih, hampir tercekat di tenggorokan Vita; "Thanks Andika, aku tak akan melupakan semua budi baikmu."

    "Terima kasih ya Tuhan,  Engkau telah kirim Malaikat di hati Andika."

    Cinta memang kadang datang dan pergi tidak seperti yang kita harapkan, namun cinta yang dimiliki Vita, kasih ayah, bunda, dan adiknya, juga cinta dari Andika, serta sahabat dan teman-temanya, membuatnya kuat dan semangat untuk menjalani hari-harinya. Hingga bianglala masalalunya tak akan pernah lagi membias sembilu di masa kini dan yang akan datang.

    Akhirnya bersamaan dengan mobil mereka sampai di depan gedung kantor, sudah bulat pula keyakinan Vita untuk memikirkan karier dulu. Biarlah rasa dan hubungannya dengan Andika berjalan seperti air mengalir hingga waktu yang akan menjawabnya.

    TAMAT

    5 komentar:

    1. Wah udah tamat, jadi pada akhirnya Vita memilih Andika hmmm

      BalasHapus
    2. Ok, ada baiknya membiarkan hati rehat sejenak mengolah cinta hingga akhirnya tumbuh cinta yang berbeda, yang mendatangkan maghnit asmara untuk seorang Vita dan Andika

      BalasHapus
    3. vita terjebak cinta segitiga. hemmmm ... antara ridwan dan vita. aku oikir si vita ini lebih suka ke ridwan daripada andika, tapi andika juga punya rasa suka pada vita.

      BalasHapus
    4. Akhirnya lega juga bisa melepaskan kenangan masa lalu yang suram.
      Cinta memang selalu datang dan pergi, vita termasuk yang beruntung, hadirnya andika menambah semangat hidup yang sedang rapuh.

      BalasHapus
    5. Endingnya gantung, Vita tak memilih siapa2, Lisa lebih memilih Blog ketimbang Ridwan atau Andika, hahaa!

      Kisah Cinta semacam ini memang agak rumit disatu sisi ingin yg terbaik utk diri sendiri sementara disisi lain Vita juga memikirkan ortunya, pada akhirnya pengalaman dan hati kecil lah penentunya!

      BalasHapus

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    Diberdayakan oleh Blogger.