Header Ads

  • Berita Terkini

    Senja di Menara Budha


    Senja di Menara Budha

    "Ting... Tong."

    Ratna, membuka matanya, kemudian meraih jam weker di meja samping tempat tidur dan mematikannya. "Ah, ketiduran." Gumamnya.

    Kemudian ia mencari-cari ponselnya, yang sebelumnya memang ia sedang chatting, namun rasa lelah dan ngantuk tak mampu menahan dan akhirnya ketiduran. Sialnya jaringan internet hilang, mungkin karena sudah dua hari ponselnya tak dimatikan sehingga membuat jaringan internet menghilang begitu saja.

    Dari bibir Ratna terukir senyum, ketika mendapatkan pesan masuk pada akun Whatsapp maupun BBM, namun ia membuka pesan di Whatsapp terlebih dahulu, di pandangi sekian banyak pesan yang masuk, dan dibukanya satu per satu "Selamat ulang tahun, Rat, panjang umur dan sukses selalu," semua isi dari pesan itu.

    Lalu ia gulir pesan ke bawah, hingga akhirnya sampai pesan yang paling bawah pesan dikirim oleh Adi pada pukul 00:10 WIB. "Hai, yang disana, Happy Birthday to You, semoga cita dan cinta selalu berpihak padamu. Maaf, aku tak bisa banyak berbicara dalam keadaan seperti ini. Baik-baik disana."

    "Terima kasih, aku pun juga tak bisa berkata apapun," Ratna membalas lalu meletakan ponselnya kemudian pergi untuk membersihkan badan.

    Selesai mandi Ratna menghadap ke cermin matanya menatap tajam pada bayangan yang terpantul dari cermin dihadapannya, ia mendesah pelahan, butiran kristal air mata jatuh di pipi, tak di sadari usianya bertambah lagi satu tahun. Usia yang tak muda lagi, meskipun raut mukanya belum menampakan kerut pada bagian kulit. Ratna masih nampak belia apalagi terukir senyum di bibirnya. Namun usia tetaplah usia.

    Meskipun demikian tak berarti ia tak ada kesedihan di hati apa lagi ketika teringat kejadian 3 tahun yang lalu, dimana kesetiannya dikhianati, kepercayaannya disalah gunakan, dari sana awal dari Ratna mengabaikan kata cinta yang bergelora pada hatinya, ia memilih menyibukan diri menunjang karier, ya, karier itu yang membuat ia lupa akan cinta bahkan ia mengabaikan pria yang mencoba ingin mengisi kekosongan hatinya. Namun, ia pun tak bisa membohongi rasa di hati ketika mengenal pria bernama Adi. Pria ini mampu menerobos relung hatinya, yang terlapis baja selama ini.

    Kembali deringan ponsel, menyita lamunan Ratna, pesan yang dikirim dari Ibunya, pesan singkat tapi penuh makna, pesan seorang Ibu kepada anaknya yang memiliki harapan agar anaknya benar-benar melupakan masa lalu, dan saatnya mulai kehidupan selayaknya seorang wanita pada umumnya.

    "Maaf, Ibu." gumam Ratna, kemudian menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.

    Ditatap foto Ibunya, diusap pipinya yang sudah mengkerut, rasa rindu membias pada hati Ratna, meski Ibu hanya Ibu tiri, namun beliau tak pernah membedakan dan menganggap Ratna sebagai anak kandung. Kemudian Ratna memandang foto Adi, ditatapnya gambar pria itu, terukir keraguan pada diri Ratna meski Adi sudah meyakinkan. Ratna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, seakan ia benar-benar dalam sebuah dimensi lain yang tak orang lain mengerti. 

    Dan tak lama kemudian ia berdiri dan membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar, seakan ia menikmati gemercik air hujan di luar sana.

    "Rat, hujan sudah reda, mari kita cepat berangkat."

    Ratna tersentak mendengar suara dari luar kamar, ia lupa kalau hari ini ada janji sama teman untuk berkumpul di sebuah caffe, hanya untuk sekedar menikmati segelas kopi kesukaan masing-masing, sambil ngobrol untuk refreshing setelah bekerja satu minggu. Dengan tergesa-gesa Ratna berganti baju, dengan kaos oblong warna biru tua, dengan celana jeans warna krem, rambut diikat dan dihiasi pita warna biru muda, ia segera bergegas ke luar kamar.

    "Maaf, Her, menunggu terlalu lama."

    Herlin hanya tersenyum dan melangkah keluar rumah diikuti oleh Ratna. Herlin adalah salah satu teman kos Ratna, mereka sudah cukup lama tinggal satu rumah, meski berbeda agama mereka berdua tak ada jarak bahkan mereka seperti saudara, suka dan duka selalu bersama.

    Tak butuh waktu lama, dengan mengendarai motor mereka berdua telah sampai ke sebuah caffe yang terletak di tengah kota, setelah parkir motornya mereka berdua memasuki caffe dan benar teman-teman sudah pada menunggu. Linda, Lara, Puput, mengukir senyum ketika melihat kedatangan Ratna dan Herlin.

    "Maaf, telat datang," Ratna dan Herlin, berkata bersamaan kemudian masing-masing menarik kursi.

    Suasana caffe itu benar membuat hati Ratna merasa senang, namun ditengah obrolan mereka tiba-tiba mati lampu, belum sempat Ratna mengucapkan sesuatu, terdengar tepuk tangan dan diiring nyanyian selamat ulang tahun, setelah nyanyian berhenti lampu pun hidup kembali. Rupanya hal itu telah direncanakan oleh teman-teman Ratna.

    Lilin yang berbentuk angka dua dan sembilan di tiup oleh Ratna kemudian tangannya memotong kue, saat kue dipotong Herlin, Lara, Puput, dan Linda tak mau kalah mereka berempat mengambil krim pada kue lalu dioleskan di muka Ratna. Mereka tertawa seakan lupa bahwa mereka berada di sebuah caffe yang banyak pengunjung. Begitulah suasan yang menyenangkan buat diri Ratna setidaknya di hari ulang tahun masih ada teman-temannya dan bahkan Ratna terhibur dan lupa akan kesedihan hatinya. Dan mereka pun meninggalkan caffe pulang ke rumah masing-masing.

    Sesampai di rumah Ratna merebahkan tubuh di sofa dengan jarinya ia memainkan ponsel, di bibirnya terlihat terukir senyum, entah apa yang ia pikirkan sehingga bisa tersenyum saat memandangi ponsel.

    "Hidup adalah tantangan. Masa lalu adalah masa dimana kita harus belajar untuk menjadi lebih dewasa, dan dimana kita harus belajar dari masa lalu bahwa segala sesuatu tak ada yang lebih baik, jika tak ada masa lalu."

    Kalimat itu terngiang ditelingan Ratna, seakan ia berada dipangkuan Ibunya, dan belaian rambut dari tangan halus seorang ibu Ratna rasakan. Ratna mendesah lalu menekan aplikasi musik pada ponselnya, handset dipasang di telingan, matanya dipejamkan seakan ia menikmati lantunan lagu kamu yang pertama, yang dinyanyikan oleh Geisha. Lagu berhenti sesaat ketika ada pesan masuk, Ratna membuka mata dan di bacanya pesan yang dikirim oleh Adi.

    "Ada waktu? Aku tunggu kamu di menara Budha."

    Pesan singkat Adi dibalas dengan cepat oleh Ratna. "Okay."

    Menara Budha adalah salah satu tempat wisata yang terletak di kota Ratna tinggal, banyak wisatawan yang datang ke tempat itu, hanya sekedar menyaksikan keindahan senja. Dan duduk-duduk di jembatan gantung melihat pemandangan yang indah, susunan bangunan dan persawahan yang terlihat dari kejauhan benar-benar membuat suasana menyenangkan.

    Ratna bangkit dari sofa lalu bersiap untuk pergi menemui Adi, dengan naik taksi ia hanya memerlukan waktu 30 menit sampailah di menara Budha, langkahnya dipercepat supaya segera bisa sampai di tempat yang telah di janjikan.

    "Sudah lama menunggu," sapa Ratna ketika sampai di hadapan Adi yang sedari tadi menunggu kedatanganya.

    Adi hanya tersenyum lalu mempersilahkan Ratna duduk.

    "Kenapa?"

    Ratna tersentak "Nggak apa-apa."

    Suasana hening, tak ada satu patah kata pun dari mereka berdua seakan mereka hanyut dengan apa yang mereka rasakan.

    "Senja, itu indah. Apa lagi diiringi semilir angin pegunungan. Tapi, apakah senja itu mengerti apa yang dirasakan oleh manusia yang menyaksikan keindahannya." Adi berbicara memecah keheningan.

    Ratna, hanya terdiam dan menatap lurus kedepan, tangannya diletakkan pada dagunya. Adi melirik sesaat pada Ratna kemudian melanjutkan kalimatnya. "Tapi sayangnya, ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri."

    Mendengar kalimat itu Ratna tersentak, ditatapnya wajah Adi yang memandang senja, pria yang memakai t-shirt ketat warna hitam di hadapannya begitu menarik hatinya, ya, tak bisa dipungkiri lagi debar cinta yang Ratna rasakan.

    "Mungkin, dan saatnya sudah untuk..."

    "Untuk apa?" Adi memotong kalimat Ratna.

    Adi menoleh ke arah, Ratna, dan pada saat itu tak terduga oleh mereka, ciuman lembut mendarat di pipi Adi. Ratna menyadari hal itu lalu ia tersipu dengan rona pipinya yang memerah seakan malu akan apa yang terjadi baru saja.

    Adi tersenyum lalu memalingkan badan, kedua tangannya memegang bahu Ratna. "Aku, pria tak pernah bisa merasa tangguh di hadapan wanita. Itu yang saya rasakan saat ini."

    Ratna, tersenyum. Adi pun menarik tubuh Ratna dan dipeluknya erat-erat, senja dan semilir angin di menara Budha menyaksikan mereka bersatu dalan gelora cinta yang mereka rasakan selama ini.

    Begitulah, akhirnya Ratna menghilangkan rasa ragu dalam hatinya mencoba menyambut cinta Adi tanpa rasa khawatir dengan masa lalu lagi, ia mencoba berpikir secara dewasa bahwa tak ada salahnya untuk mencobanya. Cinta tak salah, cinta datang dengan rasa, begitulah liku-liku kehidupan manusia.

    The End

    Catatan: Ini hanyalah cerita fiksi, jika ada kesamaan tokoh dan kejadian dalam alur cerita ini, hanyalah kebetulan semata.
    Penulis: Lisa Nel

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    Diberdayakan oleh Blogger.