Header Ads

  • Berita Terkini

    Cerpen - Cintaku Kakak Sepupuku



    Teng... teng.. teng... suara bel berbunyi bertanda masuk kelas, Aku segera beranjak meninggalkan bangku perpustakaan dan kembali ke kelas, tanpa sengaja di depan perpustakaan Aku bertabrakan dengan seorang pemuda. "Maaf.." kata ku lirih sambil menundukkan kepala, dan kemudian ku segera masuk kelas. Hingga jam pelajaran berakhir dan pada waktunya pulang tiba, namun hujan turun dengan derasnya, karena ku tidak membawa payung akhirnya ku menunggu hujan reda.  Aku berdiri di teras sekolah dan berharap hujan segera reda.

    "Kamu yang tadi menabrak ku di depan perpustakaan?" suara itu mengejutkan ku.

    "Iya.. Maaf,  tadi Aku tidak sengaja," Jawabku sambil menoleh kearah datangnya suara.

    "Iya, tidak apa-apa, kenalkan nama ku Alek," Dia berkata sambil mengulurkan tanggannya dan tersenyum.

    "Aku Mila," ku sambut uluran tangannya.

    "Mila.. sebuah nama yang sangat indah," kata Alek sambil melepaskan tangannya.

    Aku hanya tersipu malu ketika Alek memuji namaku. Dari perkenalan itu Aku dan Alek mulai akrab dan sering bertemu di perpustakaan pada jam istirahat. Hingga suatu hari Aku dan Alek bertukar nomer handphone dan saling memberitahu akun media sosial. Dari situlah Kami berdua sering bercerita lewat sms maupun jejaring sosial, dan ku juga sering bertanya tentang pelajaran sekolah, karena Alek adalah kakak kelas ku.

     Seiringnya waktu, bunga bunga cinta mulai tumbuh di antara Kami berdua, dan semenjak itu pula nilai ku selalu bagus-bagus hingga ibu dan bapak ku selalu memujiku namun Aku belum berani bercerita tentang Alek pada kedua orang tua ku.

    Sehari setelah pengumuman kelulusan sekolah Alek. Alek mengajak ku untuk makan siang di sebuah restoran dan Alek menceritakan untuk melanjutkan kuliah, selesai makan siang Alek mengajak ku ketaman, Alek memberi ku seikat bunga mawar pink, bunga kesukaanku , Alek pun mengungkapkan isi perasaan nya padaku. Karena sebenarnya Aku juga mencintainya tanpa ragu ku menerima cintanya dengan catatan selama tidak menganggu sekolah dan kuliah kami.

    Hari-hari Kami, dipenuhi canda tawa tiada pernah ada sengketa di antara Kami, Alek orang nya sangat baik, sopan, pengertian, serta penyabar. Ku sangat beruntung memiliki kekasih yang sangat menyayangiku. Setiap pagi Aku selalu mendapat ucapan selamat pagi cintaku dan kata-kata romantis dari Alek, begitu pun setiap malam sebelum tidur ku.

     Lengkap sudah kebahagian ku dan tiba saatnya kelulusan ku. Aku bahagia karena mendapat nilai yang cukup memuaskan dan yang paling membuatku senang aku bisa selalu bersama-sama Alek di satu kampus. Waktu demi waktu Kami lalui bersama, hingga suatu ketika Aku bawa Alek kerumah dengan tujuan ku perkenalkan pada kedua orang tua ku. Ibu bapak menyambut Alek dengan baik bahkan sebentar saja mereka sangat akrab karena Alek orangnya ramah. Kini hubungan kami pun semakin serius setiap pagi Alek menjemputku untuk berangkat ke kampus dan pulang pun mengantarkan ku.

    "Sayang.. jangan lupa nanti siang," pesanan singkat dari Alek. Ku hanya tersenyum membaca pesanan itu, tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hubungan ku dengan Alek genap 2 tahun. Kami pun berencana untuk merayakan di restoran untuk makan siang.

    "Mila... sayang kesini sebentar nak, ada yang ingin ibu bicarakan," suara ibu mengejutkan ku.

    "Iya, bu..," jawabku sambil keluar kamar. Ternyata bapak dan ibu sudah ada di ruang tengah menungguku. "Duduklah nak," sapa Bapak penuh wibawa.

     "Mila, ibu bapak sayang padamu, ibu bapak menginginkan yang terbaik untukmu," suara ibu berhenti sejenak kemudian dengan nada pelahan ibu melanjutkan perkataannya.

    "Ibu bapak bahagia melihatmu bahagia, apakah kamu sudah bener-bener serius memilih Alek menjadi imam mu?" pertanyaan ibu ini membuat aku tersentak.

     "Iya.. bu," jawabku dengan tegas.

    "Mila, ada hal yang perlu kamu ketahui, Alek itu adalah kakak sepupumu, Alek anak kandung tantemu," suara ibu pelan sambil tangannya mengusap lembut rambutku.

    "Benar kata ibu mu Mila, bapak dan ibu baru tahu kemarin, setelah bertemu orang tua Alek, ternyata," bapak tak meneruskan kata-katanya.

    Bagaikan disambar petir aku mendengar perkataan ibu dan bapak. "Mila tak percaya ini cuma mimpi kan bu? kan pak? kenapa ibu kejam padaku... kenapa?"

    Ibu terus berusaha menjelaskan semua padaku, namun Aku tak mendengarkan nya. Aku berlari keluar rumah tanpa menghiraukan panggilan dari kedua orang tuaku, ku berlari dan berlari akhirnya ku sampai dirumah kos Alek, Aku marah, Aku maki Alek.  "Kenapa kamu harus datang padaku? kenapa kamu menjanjikan surga cinta untuk ku ? kenapa kita harus bertemu?" Alek binggung dengan sikap ku.

    "Mila... ada apa denganmu sayang? kenapa kamu bicara seperti itu? apa maksudmu?" tanya Alek pada ku.

    "Kaa... kaam... kamu... kakak sepupuku," dengan suara terbata bata dan menangis aku menjelaskan pada Alek.

     "Apa ??? apa kamu bilang Mila? coba kamu ulangi sekali lagi."

    Aku langsung lari keluar, dan Alek pun mengejarku, tanpa melihat kanan kiri akhirnya naas Alek tertabrak mobil dan langsung meninggal.

    Semenjak kepergian Alek, Aku merasa sangat bersalah, bahkan hidup ku antara sadar dan tak sadar,  Aku hanya mengurung diri dikamar tak mau bicara, tak mau makan, bahkan tak juga minum. Ibu bapak cemas dengan keadaan ku yang seperti ini.

    "Mila, Kamu tidak bersalah dengan meninggalnya Alek, putra ibu. Mungkin ibu yang bersalah selama ini, untuk tidak memberitahu Alek siapa dirinya, ibu juga menyesal, tapi ibu tidak mau menyalahkan diri ibu sendiri, karena tanpa adanya kejadian ini, tentu ibu tidak mendapat sebuah pelajaran disisa-sisa usia ibu ini.  pertemuan dan percintaan Kamu dengan putra angkat ibu, yang sesungguhnya adalah saudara sepupu ini tentu sangat menyakitkan, tapi ingatlah Mila, Kamu masih muda dan penyesalan tak akan berakhir dengan cara Kamu mengurung diri, mari bangkitlah nak, dan ambillah Air Wudhu mintalah petunjuk Dari Allah S.W.T. Ibu yakin Kamu mampu membawa dirimu untuk melangkah kedepan dengan baik," 

    Kata-kata ibu angkat Alek kembali terniang ditelingaku, Aku segera bangkit dari tempat tidurku, ku bercermin dan kemudian ku masuk kamar mandi untuk membersihkan badanku. Guyuran air membuat badanku terasa segar kembali, setelah beberapa saat Aku pun siap dengan busana muslimku. Pelahan ku melangkah mendekati kamar orang tuaku, dan ku buka pelahan pintu kamar, ku melihat kedua orang tuaku masih tertidur nyenyak. Namun belum sempat ku beranjak pergi ibu memanggilku. Kedua orang tuaku heran melihat Aku berbusana rapi. "Ibu, bapak maafkan Mila telah membuat bapak dan ibu cemas, " dan Kami pun berpelukkan, kemudian Aku memberitahu ibu dan bapak, bahwa aku mau pergi menuntut ilmu di pondok pesantren, niatku ini tentu direstui oleh kedua orang tuaku hingga pada akhirnya Aku pun bisa menerima kenyataan bahwa meninggalnya Alek bukan atas salahku, melainkan karena ketidak tahuan ku, Alek adalah saudara sepupuku.    

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    Diberdayakan oleh Blogger.