Header Ads

  • Berita Terkini

    Maafkan Aku

    "Kak Dinda!" Suara itu mengejutkanku. Aku berhenti dari menyiram bunga-bunga di pekarangan rumahku.

    "Oh. Kamu Yogi." Sapa ku. "Sepertinya ada hal penting yang ingin kamu sampaikan, ayo masuk rumah," lanjutku sambil meletakan ember berisi air.

    "Bunga-bunga ini cantik-cantik, seperti pemiliknya." Yogi meledek sambil melangkah ke beranda rumah.

    Aku hanya tersenyum dan mengikuti langkah Yogi, kemudian kami berdua duduk di bangku beranda rumah. Sejenak suasana hening, tak ada sepatah kata pun, aku melirik ke arah Yogi yang kelihatan cemas. Yogi tersadar kalau sedang aku perhatikan.

    "Ah, kakak jangan pandangi aku seperti itu, jadi nggak enak," kata Yogi lirih mampir tak aku dengar.

    "Ayo, katakan apa yang sedang kamu pikirkan." Jawabku.

    "Ida dan Nota, telah dimasukan dalam tim kita, kak," Yoga mulai bercerita.

    "Lalu, apa masalahnya?" Jawabku pelan.

    "Tapi, kenapa nama kakak dihapus dari tim!" Kata Yogi lirih hampir tak aku dengar.

    "Ah, sudahlah nggak usah dipikirkan," aku menenangkan Yogi yang sedang gelisah.

    Hari semakin sore dan senja pun telah digantikan malam, aku menyandar di sofa, anggan ku menembus mega-mega malam, terbayang kalimat demi kalimat yang diucapkan Yogi siang tadi. Tak terasa jarum jam menunjukan angka 00:30. Ponsel ku berdering pertanda pesan singkat masuk. Sekilas ku lihat pesan dari Andri; "Maaf Dinda, aku merasa telah melakukan kesalahan menghapus nama kamu dari tim,"

    "Menghapus itu hak kamu dan aku pun tak ada masalah dengan itu." Jari ku begitu cepat menekan huruf demi huruf membalas pesan Andri.

    "Tidak. Itu atas ketidak sengajaan, entah bagaimana nama kamu bisa terhapus, Dinda." Balas Andri lagi.

    "Saya telah menambahkan nama kamu di tim, dan sekali lagi saya minta maaf, Dinda," pesan Andri kemudian.

    Aku merenung sejenak, aku baca ulang pesan Andri kalimat itu seakan Andri menyesali apa yang telah terjadi. Kemudian jari ku kembali bergerak menekan huruf demi huruf sehingga menjadi susunan kalimat, ku baca ulang sebelum aku tekan tombol kirim. Setelah aku mengirim pesan, aku tersadar bahwa aku telah berburuk sangka pada Andri. "Maafkan aku Andri," Gumamku.

       

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    Diberdayakan oleh Blogger.