Header Ads

  • Berita Terkini

    Istana Kecilku



    Istana Kecilku

    Senja semakin tenggelam dan digantikan oleh malam, aku masih belum beranjak dari kursi bambu tempat dudukku. Mataku menatap deretan rumah-rumah yang tersusun rapi, yang dihiasi warna warni cat dinding sehingga membuat suasana begitu nyaman dipandang. "Aahh! Apakah aku akan meninggalkan Istana ini?" Gumamku.

    Masih teringat jelas di pikiranku, sewaktu aku baru datang, menjadi penghuni baru. Istana ini masih belum berdiri dengan sempurna, juga masih banyak sampah-sampah berserakan. Bahkan banyak pengacau yang tidak bertanggung jawab membuat rusuh. Aku pun membangun rumah di atas sepetak tanah yang disediakan oleh Istana ini, sang Raja begitu dikenal sangat ramah dan tak pernah lelah mendengar keluhan warganya. Ia terus membangun Istananya dengan sepenuh hati sehingga Istana terlihat megah.

    Kembali mataku tertuju pada sebuah taman di tengah-tengah Istana ini. Taman tempat penduduk berkumpul, bercanda, ataupun sekedar menjajakan dagangannya. Dulu taman itu begitu kotor banyak sampah berserakan, aku dengan senang hati menyapu sampah-sampah itu, hingga terlihat bersih dan nyaman dipandang. Suatu hari sang Raja mendatangi rumahku. Aku terkejut saat itu, senyuman yang begitu ramah terukir dari bibirnya, suaranya yang lembut begitu mengambarkan seorang Raja yang bijaksana. Semenjak itu aku menjadi teman baik sang Raja. Juga menjadi penjaga taman itu.

    Hari-hariku tak ada rasa lelah untuk terus mengelola sebidang tanah di samping rumahku, sayur mayur yang aku tanam terlihat subur, disamping itu aku terus menjaga taman, dan juga membantu pendatang baru yang ingin menjadi penduduk Istana ini. Hingga pada akhirnya namaku begitu terkenal, keseluruh pelosok Istana bahkan sampai ke Istana tetangga. Meskipun demikian aku tak pernah membanggakan dengan apa yang aku miliki. Terkadang aku merasa engan, jika aku bertemu penduduk yang selalu memujiku. Aku selalu berkata; "Aku bukan petinggi Istana ini."

    Seiring dengan berjalannya waktu,  di tengah kesibukan ku. Aku dikejutkan oleh kedatangan perdana menteri dari Istana tetangga. Ia sangat ingin aku bekerja di Istananya, bahkan ia menjanjikan kehidupan mewah jika aku menerima tawarannya. Aku mulai tergiur dengan tawaran yang istimewa ini, dan aku pun berpikir mungkin akan lebih baik aku menerima tawaran itu. Namun, ternyata tak semudah itu, aku harus perperang dengan perasaanku antara meninggalkan atau bertahan.

    "Ahhhaaah!" Aku menarik napas panjang  seakan ingin menghilangkan beban yang aku rasakan. Kembali mataku menatap lurus ke depan di arah jalan setapak yang disinari lampu-lampu di sepanjang jalan itu. Aku berdiri dari tempat dudukku lalu melangkah perlahan menelusuri jalan. Sepoi dinginnya angin malam menyentuh pori-pori kulitku. Tapi, aku tetap terus berjalan dan berjalan hingga aku sampai di persimpangan jalan. Aku tertegun melihat rumah sederhana diujung jalan itu, rumah berdinding biru begitu indah dipandang. Aku melangkah memasuki halamannya, langkah ku berhenti sejenak ketika melihat papan kayu yang ada tulisan.

    "Persahabatan yang sukses, bukan dihitung dari berapa banyak kita membantunya, tapi persahabatan yang sukses adalah yang tidak ada hitung-hitungan berapa banyak kita membantunya."

    Aku merenung sejenak dan kemudian kubaca kembali kalimat di papan kayu itu; "Ya, memang benar, membantu dengan iklas bukan arti mengharap sebuah imbalan, dan akan mendapat sebuah hikmah persahabatan yang hakiki, seperti makna yang aku dapat pada kalimat ini." ucapku lirih.

    Aku semakin tertarik dengan rumah itu, aku terus melangkah dan membaca setiap kalimat yang terukir di setiap papan kayu. Aku benar-benar terpesona dengan tulisan demi tulisan, hingga langkah ku sampai disudut ruangan.
    Papan kayu berwarna coklat tertulis dengan tinta warna merah menarik perhatian ku, aku mengusapnya perlahan. "Dunia belum menang, dan aku belum kalah." jantungku bergetar hebat, kalimat itu telak menembus ulu hatiku, sehingga kaki ku terkulai tak berdaya tersimpuh di lantai.

    "Sungguh luar biasa penulisnya ini." gumamku.

    Perlahan aku berdiri, lalu berjalan keluar rumah aku berteriak sekuat tenaga; "Ya, dunia belum menang, dan aku belum kalah. Kenapa aku harus meninggalkan Istana ini karena tergiur tawaran yang mewah tapi belum tentu membuat aku bahagia. Aku akan tetap memperjuangkan sepetak tanah, yang telah aku perjuangkan selama ini. Mungkin saat ini aku belum mendapatkan hasil dari sayur mayur yang aku tanam. Tapi, aku harus yakin bahwa suatu saat nanti aku akan mendapat yang lebih baik."

    Kini aku kembali tenang, berada di Istana ini. Dan bisa bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang ini.

    Selesai

    Cerita fiksi, oleh Lisa Nel
    Semoga cerita di atas bisa diambil makna dan hikmahnya oleh seluruh pembaca.

    Salam sukses dan keep writing!

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    Diberdayakan oleh Blogger.