Header Ads

  • Berita Terkini

    Hadirnya Cinta Dua Benua


    Hadirnya Cinta Dua Benua

    "Selamat pagi kak Jessi, sudah ada yang mengucapkan selamat pagi belum?"
    Itu adalah pesan singkat yang aku terima dari Indra, aku tersenyum saat membacanya dan aku pun membalas pesan itu; "Selamat pagi juga Indra, sudah, pak satpam dan teman kerja."

    Tak lama kemudian pesanku mendapat balasan; "Yang di India sudah mengucapkan? Dan yang dekat juga sudah mengucapkan?"

    "Hahaha... Yang di India masih tidur, sedangkan yang dekat sudah, hari ini hujan dan dia jemput aku untuk bareng berangkat kerja," balas ku.

    "Cie... Cie... So sweet!" Balasnya lagi.

    Begitulah hari yang penuh ceria ku lalui, entah apakah aku wanita beruntung yang dicintai dua pria yang berbeda tempat, juga berbeda kepercayaan dengan diriku. Tak kupungkiri hal ini membuat aku bingung untuk memilih satu dari mereka. Ya, aku sadar bahwa mencintai dan dicintai dari pria yang berbeda kepercayaan sungguh sulit bagiku untuk menentukan pilihan, karena aku sadar hubunganku nanti ada tembok penghalang di depan sana yaitu Agama dan restu orang tua.

    Diego pria berasal dari Amerika, yang bekerja tak jauh dari tempat kerjaku, ia sangat baik bahkan tak ada cacat dari segi apapun, juga ia sangat menyanyangiku, namun sampai saat ini hatiku masih ragu untuk menerima cintanya. Sedangkan Zidan pria dari India, meskipun belum pernah ketemu dengan nyata ia mampu mengambil tempat di hatiku.

    Dalam rinai rintik hujan di luar sana, tangan ku terus memainkan pensil yang ada di meja kerjaku. Senandung lagu kamu yang pertama yang dilantunkan oleh Geisha membuat suasana ruangan kerjaku seakan tak ada beban pekerjaan yang harus aku kerjakan.

    Ya, Tuhan tahu bahwa tidak baik jika manusia itu hidup seorang diri tanpa ada pendamping hidup, dan oleh karena itu Tuhan menjadikan kita seorang yang harus berpasangan agar hidup kita sepadan.

    "Hmm... Siapakah diantara dua pria ini yang sepadan dan bisa mendampingiku untuk merilis masa depanku?"

    Diego memang sabar. Meskipun aku sering ngomel saat ia menelepon, ia selalu dengarkan tak ada rasa bosan atau jenuh untuk mendengarnya. Padahal bisa saja ia menegur, dengan mengatakan masih untung ia meneleponku di tengah kesibukannya. Dia hanya mendengarkan, lalu setelah aku mengakhiri protes, ia hanya akan berkata singkat; "Sudah?"

    Dan saat itu aku mau membuka mulut lagi untuk memarahinya, tapi dengan tenang ia yang ada di sana menyela; "Sayang... Ngomel karena kangennya, sudah?"

    Aku pun tersadar, rasa kangenku mengubah menjadi seseorang yang menyebalkan buat Diego. Tapi dia tetap sabar, dan terkadang menawarkan diri untuk menjemputku berangkat ataupun pulang kerja. Bahkan suatu hari ia mengatakan padaku dengan kalimat; "Kalau kita berdekatan nanti, rasanya tak tahan aku untuk tinggal terpisah darimu. Maukan, kamu jadi kekasihku, bahkan menikah denganku? Aku serius dan sanggup berpindah Agama.

    "Aaah, ini benar-benar membuat aku terkejut dan tak berdaya."

    Lain halnya dengan Zidan yang selalu menanyakan hal pribadi sebagai ungkapan simpati padaku. Bahkan Zidan sangat perhatian sampai hal yang paling kecil. "Kamu, mesti pandai jaga diri Jessi, kamu cantik dan berprestasi, pasti banyak pria yang ingin di dekatmu."

    Ya, Zidan memang lebih pendiam dibanding Diego yang lebih pintar merayu bahkan membual padaku. Tapi, Meskipun pendiam Zidan mampu menempatkan rasa cinta untuk singgah di hatiku. Terkadang Zidan membuat aku jengkel bahkan malas untuk membalas pesan nya, tapi jika dia tak mengirim pesan, aku sangat merindukannya.

    Ah, ini memang tak masuk akal tapi kenapa meski terjadi pada diriku ini, apalagi Zidan telah mengatakan serius dan ingin datang ketempat aku tinggal. Dan ucapan itu aku tahu tulus datang dari keseriusan yang ia katakan.
    "Oh my god! Keduanya adalah pilihan yang tak bisa aku pilih."

    "Hayo, pilih yang mana?" Suara itu mengejutkan ku.

    Sungguh tak aku sadari kata-kataku sampai terdengar oleh rekan kerjaku, aku hanya bisa tersipu malu dan akhirnya kami pun tertawa bersamaan. Biarlah semuanya berjalan mengalir bagikan air dan pada saatnya salah satu dari Benua itu akan berlabuh di dalam relung hatiku.

    Selesai

    Karya: Lisa Nel
    Catatan: Ini hanyalah cerita fiksi, dan apabila dalam penulisan ada yang salah atau bahkan tidak benar saat menggunakan tanda baca, harap di maklum karena saya bukan seorang sastrawan, melain hanya seorang penulis biasa yang hanya ingin menulis untuk mengisi waktu luang.

    Salam sukses dan keep writing!

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    Diberdayakan oleh Blogger.