Header Ads

  • Berita Terkini

    Nyaman Dalam Kesendirian Ku


    Nyaman Dalam Kesendirian Ku

    Bulan november telah memasuki musim dingin, cuaca dingin ini membuatku terpaku di sudut bisu. Mengenang masa lalu bersama teman-temanku. Betapa aku merindukan hari-hari seperti dulu lagi ketika masih dapat berkumpul dengan mereka. Traveling kemana-mana sehingga kami pun bahagia. Namun kini hanyalah sebuah kenangan yang tak pernah aku lupakan. Mereka pun telah berumah tangga, dan menimang buah hati masing-masing. Namun aku masih sendiri dengan kebisuan hatiku. Ini kehidupan yang aku jalani, entah sampai kapan, kerasnya hati ini akan bisa lembut seperti dulu lagi.

    Butiran-butiran bening jatuh di pipiku dan mampu mendamaikan hati yang gersang akan rintihan sebuah cinta. Semakin ku mengerti bahwa setiap tangisan terkadang mampu meredakan sesak di hati akan sebentuk kegalauan. Tak menutup kemungkinan, jika bening air di matapun mampu membuat ekspresi kebahagiaan, terlihat begitu sempurna.

    Awal pergantian rasa, memang tak kupungkiri, betapa sulit melupakan bayangan sesosok yang dulu sangat dekat dalam keseharianku. Hal yang manusiawi, jika dalam diam aku menghadirkan dalam lamunan, mengikuti kegiatannya, bahkan mencari tahu kabarnya. Dan pada akhirnya dengan tombol "delete" setelah itu, tapi ternyata aku tak bisa menghapus semuanya dari hatiku.

    Ya, rasanya sia-sia, jika aku memaksa menghapus, melupakan, bahkan memutus semua akses pada dirinya, jika hatiku semakin tersiksa. Lalu aku mencoba damai dengan hati, menjinakan dengan memuntahkan semua kenangan manis dan pahitnya. Lalu, kuambil dan aku kemas, kemudian aku simpan dalam ruang hatiku yang paling dalam. Sehingga yang kurasakan sekarang, hidupku semakin tenang tanpa membenci, sekaligus tak akan mengharapkannya.

    "Cinta terkadang membuat kita buta, menangis, bahkan kecewa, tapi tanpa cinta kita akan menderita, cinta jangan dipersalahkan, karena dia akan datang dari sebuah ketulusan hati kita, jika cinta membuat hati sakit maka kita sendiri yang membuatnya, Lis."

    Kata-kata itu dulu di ucapkan oleh Rini sahabatku, meskipun kini kami saling berjauhan, tapi, Rini masih sering menghubungiku walau hanya sekedar tanya kabar masing-masing lewat layanan jejaring sosial. Ya, tak dapat dipungkiri lagi, karena sebuah cinta akhirnya aku harus terdampar di negeri fromosa ini, jauh dari keluarga tercinta.

    Kehidupan baru di negara orang, bertemu dengan orang-orang baru ternyata mampu memberi motivasi dalam hidupku untuk mengarungi kehidupan di dunia ini, sehingga aku bisa melupakan masa lalu dengan semudah itu.
    Bertahun-tahun ku lalui hidup di negeri orang, membawa luka hati yang mendalam, kini aku pun enggan untuk pulang ke tanah air tercinta. "Aneh kan?!"

    Hari-hari terus ku lalui dengan belajar dan berlatih mewarnai langit-langit agar keindahan muncul dalam pembelajaran hidup yang panjang tanpa ujung ini. Sesekali aku berhenti untuk menghela nafas dari hiruk pikuk dan hingar bingar dunia yang semakin berkembangnya teknologi. Sesekali aku melihat ke belakang untuk menangkap sesuatu yang pernah berarti di masa lalu atau mengenang kebahagiaan sebagai infus hari-hari yang terasa semakin berat seiring bertambahnya usia.

    Tetapi aku tak pernah berhenti untuk terus bermimpi untuk memperbaiki kehidupanku, untuk hidup di masa yang akan datang. Dan aku pun selalu bersyukur atas kehidupan yang Tuhan pilihkan untuk jalannya kehidupanku. Juga tertanam keyakinan diri dalam hati agar aku tak pernah berhenti berharap bahwa suatu saat nanti setiap jiwa yang hidup Insya Allah akan menemukan sebuah jawaban yang indah pada akhirnya atas perjalanan panjang penuh tanda tanya ini.

    Ternyata semangat hidupku, telah mulai berwarna lagi di hiasi indahnya pelangi, benih-benih cinta mulai tumbuh lagi meskipun masih dalam keraguan antara percaya dan tidak percaya, itulah kehidupan walau pun sepahit obat ataupun semanis madu aku harus tetap menerima dengan keikhlasan hati.

    Bagiku, hidup adalah untaian cerita penuh makna yang sudah ditakdirkan oleh-Nya. Membias dalam keseharian di atas permukaan bumi yang tanpa batas. Saat bahagia, betapa bumi ini selalu ingin diwarnai dengan beragam warna-warni pelangi. Namun ketika bersedih, bumi ini seolah-olah basah akan genangan air dan sulit diwarnai kecuali dengan percikan lumpur ratapan pilu.

    Itulah hidup yang aku jalani dan mampu membawa kenyamanan di setiap langkahku, tanpa ada rasa kegalauan lagi yang menghiasi setiap sisi, menghambat perjalan kedua kaki ku ini untuk menuju kedepan, mendapatkan sebuah impian yaitu cinta sejati dan sebuah kebahagian yang hakiki.

    Selesai


    Penulis: Lisa Nel
    Catatan: Cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun jalannya cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

    Salam sukses dan keep writing!

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    Diberdayakan oleh Blogger.