Header Ads

  • Berita Terkini

    Dibalik Singkong Rebus Secangkir Kopi Ibu


    Dibalik Singkong Rebus Secangkir Kopi Ibu

    Malam kian merambat malam, sebuah mobil vios warna merah melaju pelan di jalan bebatuan desa di pinggiran kota kediri, dan berhenti di sebuah rumah tua namun masih tersusun rapi, terlihat jelas pemilik rumah itu memiliki ketrampilan dalam memelihara lingkup rumahnya. Kedatangan mobil yang tak asing lagi bagi pemilik rumah tua itu, beliau langsung membuka pintu menyambut kedatangan putri semata wayangnya.

    "Sendirian? Mana suami kamu, Ana?" Sapa bu Tina dengan terukir senyum penuh tanda tanya, karena tak biasa Ana datang seorang diri pada malam hari.

    Bu Tina panggilan orang tua itu, dulu sewaktu muda beliau terkenal sebagai seorang pengusaha sukses di kampung ia tinggal dan memiliki satu putri, ketika Ana masih berusia 10 tahun suaminya meninggal dan sejak itu, bu Tina menjalani kehidupan ini sendirian, berperan sebagai ibu sekaligus ayah. Meskipun banyak pria yang ingin menjadi ayah dari Ana, namun bu Tina menolak, dan memilih hidup sendiri. Hingga akhirnya, Ana pun telah menginjak dewasa dan berumah tangga. Bu Tina, membiarkan Ana tinggal di kota bersama suaminya, untuk melanjutkan usaha yang bu Tina rilis.

    "Hendik ada di rumah, Bu," jawab Ana sambil mencium tangan, kemudian memeluk ibunya.

    Bu Tina yang memiliki kepekaan merasakan keanehan pada diri anaknya, kemudian menyuruh Ana masuk; "Ayo, cepat masuk nanti masuk angin."

    "Bu, bolehkan saya tinggal beberapa hari di sini?" pinta Ana.

    "Tentu. Boleh, sekarang cuci kaki dan pergi istirahat besuk kita lanjut ngobrolnya," jawab bu Tina dengan suara pelan, seakan mengerti apa yang Ana rasakan.

    Ke esok harinya, suasana pagi di perkampungan itu terlihat ramai oleh hiruk pikuk warga yang akan berangkat ke ladang. Ana duduk di ruang tamu,  mengenang apa yang telah terjadi pada dirinya. Hendik, suaminya, orang yang dicintai sepenuh hati tega menikam dari belakang, menduakan cinta yang ia miliki. Tanpa terasa butir-butir bening jatuh di pipi Ana, membuat ia semakin tersiksa oleh keadaan itu. Bu Tina melihat putrinya menangis, lalu menghampiri dan duduk di sebelah Ana, kemudian bu Tina mengusap lembut rambut Ana penuh dengan kasih sayang; "Ceritakan apa sebenarnya yang terjadi, ibu melihat ada kesedihan yang kamu simpan?"

    Kemudian Ana pun bercerita tentang rumah tangganya, tentang perselingkuhan suami dan usaha yang ia kelola bangkrut yang luar biasa, karena hal itu, sehingga Ana merasa putus asa, kecewa akan apa yang telah terjadi dengan dirinya, bu Tina mendengarkan cerita Ana hanya bisa menarik napas dalam-dalam, merasakan apa yang dirasakan oleh Ana. Dulu, apa yang dialami bu Tina kini menimpa putrinya, namun lain cerita. Kemudian bu Tina berdiri dan meninggalkan Ana seorang diri. 15 menit kemudian, bu Tina menghampiri Ana yang masih duduk di sofa. Singkong  rebus dan secangkir kopi yang bu Tina bawa di letakkan di atas meja. Ana merasa heran apa yang ibunya lakukan.

    Belum sempat Ana bertanya kenapa ibunya membawakan singkong rebus dan secangkir kopi, namun bu Tina sudah pun berkata; "Coba kamu pegang singkong rebus itu, apa yang kamu rasakan."

    "Empuk! Bu," jawab Ana bingung apa yang di maksud ibunya.

    "Coba kamu minum kopi itu." Lanjut bu Tina.

    Kemudian Ana pun mengikuti kata ibunya, dan merasakan kehangatan aroma pada kopi yang ia minum; "Apa maksud dengan semua ini, Bu?"

    "Setiap objek ini menghadapi satu proses sulit yang sama: direbus dalam air. Tapi masing-masing berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Singkong ini, tadinya ia kuat dan keras. Tapi begitu direbus, ia jadi layu dan empuk. Sementara biji bubuk kopi ini unik. Setelah direbus, bubuk kopi mengubah air jadi berwarna sama dengannya, dan aromanya," bu Tina menghirup aroma kopi sambil memejamkan matanya. "Aromanya sangat harum dan menghangatkan."

    "Masing-masing objek membawa pesan. Saat kita dihadapkan pada sebuah kesulitan, kamu ingin memiliki perubahan seperti apa? Singkong atau kopi?" Suara pelan bu Tina sambil tangannya mengelus lembut rambut Ana.

    Ana yang tadinya bingung, mencoba untuk bertanya pada diri sendiri. "Apakah aku seperti singkong yang tadinya kuat tapi langsung lemah begitu mendapat sebuah ujian?"

    Kemudian Ana  mengambil cangkir kopi yang kini sudah mulai mendingin. "Atau aku bisa jadi secangkir kopi? Mampukah aku yang tadinya bukan apa-apa bisa jadi seorang yang lebih kuat setelah menghadapi sebuah ujian, dan aku bisa memberikan aroma kebahagiaan serta semangat baru untuk orang-orang di sekitarku?"

    Tak lama kemudian Ana membalikkan badan, memandang ibunya. Dengan bijak, bu Tina menggenggam tangan anaknya; "Kamu, memilih jalan hidupmu sendiri. Kamu, yang menentukan ingin jadi apa dirimu. Ujian, kesulitan, dan kesedihan, semua itu bagian dari hidupmu. Tinggal bagaimana kamu menyikapi itu semua. Kamu ingin jadi seperti singkong, atau kopi, itu juga tergantung pada pilihanmu sendiri."

    Ana kembali merenung. Ia mengibaratkan semua kesulitan hidup yang ia hadapi saat ini sebagai air rebus. Dirinya merupakan bubuk kopi yang akan berubah menjadi secangkir kopi hangat asal bisa bertahan menahan rebusan air tersebut. Kemudian Ana memeluk ibunya. "Terima kasih, Ibu. Aku akan bertahan dan terus berjuang."

    Bu Tina tersenyum lalu perlahan melepaskan pelukannya, kemudian mengangkat dagu Ana, dipandangi wajah bulat, mata bening putrinya dan kemudian berkata pelahan seakan bu Tina tak mampu menahan air mata, tapi bu Tina berusaha menyimpan air mata itu, agar tidak jatuh di depan anaknya.

    "Semua kesulitan dan ujian yang kita hadapi saat ini tak lain adalah bagian dari proses kita untuk jadi orang yang lebih baik. Rasa sakit hati, putus asa, dan sedih pada akhirnya akan membuat kita jadi orang yang lebih bijak."

    Kemudian, bu Tina memeluk anaknya lebih erat, dan Ana pun menenggelamkan kepala dipelukan ibunya, isak tanggis Ana semakin menjadi. Air mata bu Tina pun tak dapat dibendung lagi, akhirnya ibu dan anak ini berpelukan diiringi isak tangis masing-masing.

    Tak sia-sia Ana pulang ke kampung menemui ibunya, membawa beban masalah yang ia hadapi, kini lewat tangan ibunya Tuhan mengirimkan ketenangan. Begitulah, jika tertimpa masalah, tak seharusnya disikapi dengan panik, karena serumit apapun masalah, solusi akan segera kita dapat disaat kita tenang.



    Sekian


    Penulis: Lisa Nel
    Catatan: Cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun jalannya cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.


    Salam sukses dan keep writing!

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    Diberdayakan oleh Blogger.