Header Ads

  • Berita Terkini

    Ye Jag Abhi Jeeta Nahi Main Abhi Haara Nahin | By: Mr Arvind Gupta



    Fahmi menekan tombol refresh sekali lagi tapi situsnya loading dan berputar-putar saja. Putus asa, ia menggebrak keyboard beberapa kali dan ibunya teriak dari dapur, "Apa hasilnya sudah keluar?"

    "Belum," kata Fahmi, "situsnya masih loading."

    Ia mengikuti tes masuk perguruan tinggi di kampus engineering terbaik. Hari ini adalah tanggal pengumumannya. Jika ia lolos, ia masuk sebagai mahasiswa di salah satu universitas ternama itu.

    "Alhamdulillah," kata Fahmi saat melihat situsnya berhasil terbuka. Ia memasukkan nomer pendaftaran dan menekan "OK" dan menutup matanya dengan perasaan gembira dan takut. Dan beberapa saat kemudian, matanya basah. Tesnya gagal. Ibunya berteriak lagi dari dapur, "Sudah keluar?" Tak mendapat jawaban, ibunya mendatangi kamarnya. Dan tanpa kata apapun sang ibu paham apa yang terjadi.

    Tapi hal buruknya adalah ketika ayahnya pulang malam hari dan bergabung dengan ibunya. Meski mereka adalah orang tua yang pengertian dan siap sedia memenuhi kebutuhan anaknya, mereka tak sanggup jika melihat masa depan anaknya suram. Mereka tak sanggup melihat anaknya gagal tes dan harus menunggu hingga tahun depan.

    Fahmi merasa hancur, dan sikap orang tuanya yang seperti itu malah memperburuk. Ia susah tidur. Selama berjam-jam, matanya ketop-ketop di kamar. Dan saat akhirnya tidur merenggutnya, ia bermimpi tentang sinau keras yang telah ia lakukan dan ia lolos tes dalam mimpi itu. Ia bermimpi tentang bagaimana orang tuanya bahagia menyaksikan anaknya diterima di salah satu kampus terbaik di negeri ini. Namun ia tersadar dan tahu bahwa itu hanya mimpi, dan ia mengharapkan itu jadi kenyataan.

    Pada hari berikutnya, saat bangun, ia merasa pikirannya lebih segar dan gelisah hatinya membaik. Ia memasang tujuan -- ia ingin mengumpulkan buku-buku yang ia perlukan dan mulai belajar, seperti yang dulu pernah ia lakukan.

    Fahmi mengambil bukunya dan membaca. Setelah satu jam, ia manaruh buku itu dan mengambil gitar usangnya untuk melepas penat. Bermain gitar adalah hobi utamanya. Ketika genjrengannya bermula, ibunya teriak lagi. Fahmi tak dengar jelas apa isi teriakan itu, tapi pastilah itu soal gitar. Pikiran-pikiran yang kemarin sekarang menghantui lagi dan dadanya sesak. Ia keluar rumah untuk menghirup udara segar.

    Di luar, ia melihat beberapa tetangga dan Fahmi tak suka menjumpai mereka, maka ia berjalan ke taman dekat rumahnya dan setiba di sana ia bermain gitar lagi. Rasanya luar biasa. Setelah beberapa saat, ketika ia berhenti dengan gitarnya, ia kembali ke malam yang sendu itu, kembali ke perasaan-perasaan yang menggelisahkan itu. Ia merasa dirinya terforsir untuk melakukan sesuatu yang tidak ia kehendaki: belajar. Ia menyadari bahwa ia tak akan pernah jadi kutu buku atau pelajar pandai di kelas. Ia menyadari itu sambil jarinya memetik senar-senar gitarnya dan ia mulai berpikir -- ia pandai dalam gitar, tidak dalam sekolah.

    Ini menjadi kebiasaannya -- belajar pagi hari (yang sebenarnya hanya pura-pura pada orang tuanya karena yang ia lakukan justru mencari di internet artikel-artikel tentang bermain gitar). Dan di malam hari, ia melatihnya. Suatu hari seorang asisten direktur musik mendengar permainanya dan memberitahu bahwa ia punya bakat dan memberinya kartu nama supaya ia datang ke kantor sekali waktu. Itulah masa ketika ia memperoleh harapan kembali. Ia tak sanggup menahan diri atau menyembunyikan itu pada keluarganya. Ia mulai berlatih dan belajar lebih banyak lagi sebelum memutuskan pergi ke kantor musik tersebut.

    Di kantor musik, hari dan situasinya terasa tak asing baginya. Dan ia  mulai takut hal buruk terjadi. Dan itu betul-betul terjadi -- sang direktur memberinya tiga puluh detik untuk mengesankan dirinya dan ia gagal. Kembali terluka, Fahmi pulang dan tak menyentuh gitarnya selama lima hari.

    Fahmi nelangsa selama lima hari itu, bukan karena rusaknya mimpinya,  mimpi tentang musik dan lagu dan popularitas. Tapi karena ia tak diperbolehkan bermain gitar di depan sang direktur. Baginya, gitar mengisi kehambaran dan kekosongan.

    Pada Senin pagi, Fahmi merasa sangat bersemangat dan memperoleh ide -- ia akan merekam permainan gitarnya dan mengunggahnya ke YouTube. Tak butuh waktu lama untuk menjadikan itu hobi barunya. Ia bekerja siang malam untuk mengarang, merekam dan mengunggah permainan gitar tersebut. Seiring waktu berlalu, ia menjadi populer. Suatu hari ia menjelma sebagai pahlawan keluarga ketika surat kabar mendengar bahwa bakat itu berasal dari rumahnya. Mereka mewawancarainya. Itulah saat di mana orang tuanya belajar tentang bakat sang anak, yang tak harus sama dengan harapan mereka. Mereka mendukungnya dan menyemangatinya untuk meluangkan banyak waktu bagi sesuatu yang dicintainya.

    Akhirnya setelah dua bulan dan 16 lagu yang ia karang, mimpinya terwujud. Sang direktur yang menolaknya dulu itu melihat videonya dan sekarang (meski tak sadar pernah menolaknya di kantor) menjadi penggemar berat karya-karyanya dan ingin bertemu dengannya. Dalam pertemuan yang ditemani orang tua Fahmi, sang direktur merasa lucu dan meminta maaf soal sikapnya dahulu. Tak dinyana, Fahmi dan keluarganya menerima kontrak kerja dengannya selama dua tahun. Selama periode itu Fahmi akan dilatih dan nantinya akan diminta untuk mengarang musik untuk lagu-lagu yang diproduksi perusahaan tersebut. Mereka membayar Rp100 juta untuk tahun pertama dan Rp400 juta untuk tahun berikutnya. Dan pada kontrak berikutnya lagi, mungkin sekali ia memperoleh Rp2,5 milyar. Tak heran ia tak bisa tidur malam itu dan teringat pada malam-malam dulu saat ia tak bisa tidur seperti ini. Dan sebuah gagasan terbesit di pikirannya, sebuah gagasan yang pernah ia baca dari buku: Tak ada kegagalan dalam hidup, yang ada hanya pembelajaran.


    Catatan pengarang:
    Ditulis oleh Arvind Gupta. Hak cipta dilindungi. Memproduksi ulang karya ini diperbolehkan selama menyertakan kredit hak cipta.
    Judul cerpen ini memakai bahasa India, diambil dari puisi (Sher) yang secara harfiah berarti "Dunia belum menang, aku belum kalah." Cerita ini memang fiksi tapi ada beberapa pelajaran yang bisa diambil:
    1. Tak ada yang namanya kegagalan, hanya pembelajaran. Kalau kau tak berhasil, berarti kau sedang belajar. Dan kau tak bisa berhasil tanpa belajar
    2. Tak ada yang namanya kesialan. Sesuatu yang kita anggap kesialan bisa berbalik menjadi titik awal keberuntungan, dan begitu pula sebalikanya. Jadi jangan biarkan keberuntungan sementara menguasai pikiranmu
    3. Setiap orang punya bakat masing-masing. Burung tak bisa berenang dan ikan tak bisa terbang. Temukan bakatmu dan persembahkan yang terbaik. Burung tak akan pernah bisa berenang sebaik ikan, dan jika ia ngotot untuk berenang, itu justru memperbutuk keterampilan terbangnya

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    Diberdayakan oleh Blogger.